Siswa Yang Langka, Yessi Rela Dijauhi Guru dan Teman Karena Tidak Mau Curang

Meski baru masuk kuliah semester satu, Yessi Rukmini (18 tahun) optimis indeks prestasi kuliah (IPK) yang diraihnya bisa paling besar. Sebab mahasiswi jurusan manajemen syariah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Hamfara, Bantul, DIY tersebut sejak SMP sudah berprestasi.

“Juara satu saya raih pada saat kelas 7 semester 2, kelas 8 semester 2 dan kelas 9 semester 1 dan dua,” ungkapnya menyebutkan prestasi saat dirinya duduk di bangku SMP Negeri 3 Purwosari.

IB-Yessi

Saat Yessi ( 18 Tahun) sedang mengambil buku di perpustakaan kampus di STEI Hamfara.

Begitu juga ketika duduk di bangku SMA salah satu sekolah di Sukorejo ia kerap juara. Meski demikian, guru-guru di sana tetap kuatir bila Yessi dan sekitar 25 siswa lainnya tidak lulus ujian pada ujian nasional. Maka, sang guru pun menjanjikan akan memberikan kunci jawaban saat ujian nasional berlangsung.

Rencana tidak terpuji tersebut ditolak Yessi, kontan saja penolakan tersebut mendapat cibiran semua teman sekelasnya kecuali Utami. Keduanya sepakat tidak mau menyontek atau pun berlaku curang saat ujian karena menurut mereka itu perbuatan yang melanggar syariat Islam.

Karena itu pula Yessi dan seorang temannya itu dijauhi teman-teman sekelas dan juga guru-guru. Dan benar saja, ketika ujian nasional semua mendapatkan kunci jawabanan tetapi Yessi dan seorang temannya itu tetap dengan tegas menolak.

Beberapa saat sebelum pengumuman hasil ujian, ibu kepala sekolah memeluk keduanya dengan meneteskan air mata. Yessi takut sekali itu pertanda tidak lulus karena yang lainnya tidak ada yang dipeluk.  “Saat pengumuman kelulusan, Allahu Akbar, Alhamdulillah, aku dan Utami lulus, perasaanku pun lega, guru-guru pun bangga pada kami karena kami jujur mengerjakan soal,” ungkap Yessi.

Dengan kuliah di STEI Hamfara, kampus yang ketat dalam mengajarkan dan mengamalkan syariat Islam, Yessi berharap dirinya dapat ditempa menjadi akademisi berkarakter ulama dan setelah lulus menjadi pengusaha berkarakter ulama juga. “Karena saat ini, kebanyakan akademisi mau pun pengusaha tidak sesuai dengan syariat Islam,” keluh Yessi.

Namun,  kini warga Dusun Pandansari Desa Sumberejo RT 19/RW 03 Kecamatan Purwosari sedang bingung untuk memenuhi biaya kuliah. Maklumlah ayahanda Juwarito (44 tahun) dan ibunda Dewi Susanti (34 tahun) yang bekerja sebagai buruh tani penghasilannya tidak seberapa.

Untuk meringankan beban Yessi, melalui program Indonesia Belajar (IB), BWA mengajak kaum Muslimin mendonasikan sebagain hartanya. Semoga dengan itu, cita-cita Yessi tercapai dan pahala dari Allah SWT selalu tercurah kepada kita semua karena telah membantu lahirnya seorang akademisi dan pengusaha yang berkarakter ulama. Aamiin.[]

Donasi yang diperlukan:

Rp 8.900.000,- (biaya gedung Rp 3 juta; biaya pendidikan satu semester Rp 2,1 juta; asrama satu tahun Rp 1,8 juta; biaya katering satu bulan Rp 500 ribu;  biaya Paket Awal ---sekali selama kuliah--- Rp 1,5 juta. Paket Awal termasuk seragam kerudung dan jilbab satu stel, jas almamater, infak kepesantrenan, pekan ta’aruf dan training, KTM, buku panduan dan parenting).

Mitra lapang:

Syaifuddin Zuhri

Para Donatur