Membebaskan Keluarga Dari Kemiskinan

Salahuddin Al Ayyuby, remaja berusia 13 tahun, bercita-cita menjadi seorang da’i, karenanya ia sangat gigih menghafal Al Qur’an. Ia juga ingin menjadi seorang pakar ekonomi islam, karenanya ia bertekad harus tuntas menempuh pendidikan.

Seperti halnya Salahuddin Al Ayyuby, sang pembebas Palestina, remaja yang biasa disapa Ayyub ini juga bertekad membebaskan keluarganya dari belenggu kemiskinan.

Meski baru mengenyam pendidikan kelas VII (Tujuh) Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pondok Pesantren Nidaa Al Haar, ia sangat bersemangat menatap masa depan. Cita-citanya sebagai seorang dai dan ekonom islam menjadi spiritnya untuk melangkah dan menyelesaikan pendidikannya, bagaimanapun caranya.

Ketika ada waktu longgar di pondok, ia memulung botol minuman untuk dijual sebagai uang saku di pondok. Terlebih jika orangtuanya tidak mengiriminya uang karena kebutuhan keluarga yang juga harus dipenuhi oleh ayahnya.

“Jika ada waktu libur dipondok, saya biasanya mulung botol minuman untuk dijual, lumayan buat uang jajan” ungkap bocah 13 tahun ini.  Dari hasil mulung botol minuman ini paling tidak ia mendapatkan uang sekitar Rp 10-15 ribu.

Alhasil, menurut para guru di Ponpes yang beralamat di kelurahan Jatimelati, kecamatan Pondok Melati, Bekasi itu memberikan tanggapan luar biasa terhadap kegigihan Ayyub.

“Ayyub adalah salah satu santri terbaik, anaknya rajin dan memiliki semangat yang tinggi untuk belajar,” ungkap Ustadz Miqdad, pimpinan Ponpes Nidaa Al Haar.

Ia juga, tambah ustadz ini, merupakan santri yang penurut dan rasa ingin tahunya sangat tinggi, serta memiliki cita-cita yang besar.

Ayyuby

Sehari-hari Ayyub bersama 10 orang temannya belajar ilmu fiqh, bahasa Arab dan juga menghafal Al Qur’an. Saat ini ia sudah hafal 1 juz, targetnya setelah lulus SMP ia akan menuntaskan hafalannya 4 juz Al Qur’an.

“Nanti setelah lulus SMA, saya harus sudah hafal 15 juz Al Qur’an,” sambut putra sulung dari 4 bersaudara ini dengan yakin.

Orangtuanya, Jenal Arifin (38) dan Sri Muldiwati (35) selalu memotivasi Ayyub untuk terus rajin menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Agar kelak menjadi orang yang memberi manfaat kepada ummat.

Namun, Ayyub juga menyadari bahwa profesi orang tuanya yang hanya sebagai tukang ojek tidak cukup untuk membiayai sekolahnya, apalagi sampai ke perguruan tinggi. Karena itu, ia sendiri berupaya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan bersekolah yang sedang dirasakannya.

Pekerjaan ayahnya sebagai tukang antar jemput anak-anak sekolah, hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan ketiga adiknya yang masih kecil-kecil. Yakni, Fatimah yang saat ini kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Kemudian Safanah, yang masih berusia 2 tahun. Dan terakhir, Mu’adz yang baru berusia 2 bulan.

Meskipun beban ekonomi yang harus ditanggung oleh keluarganya cukup sulit. Ayyub selalu yakin bahwa dia akan bisa menyelesaikan pendidikannya hingga ke bangku kuliah. “Agar kehidupan keluarga saya bisa menjadi lebih baik, saya harus bisa sampai kuliah” tutur Ayyub penuh asa.

Indonesia Belajar (IB) dari Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) mengajak dermawan dari kalangan muslim untuk membantu mereka yang papa. Ayyub salah satunya, pemuda muslim dengan semangat belajar tinggi, gigih menghafal Al Qur’an, tapi ia terhambat oleh biaya.

Donasi Yang Dibutuhkan :

Rp. 7.800.000,- (Tujuh Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah)

Partner Lapang :

Darminto

Para Donatur