Meraih Kebahagiaan yang Haqiqi

  • 2019-06-27 07:51:54

Para ilmuwan dari Universitas Rochester, Amerika Serikat, telah meneliti 147 orang alumni dari dua perguruan tinggi. Para mantan mahasiswa itu dinilai segi kepuasan hidup mereka, harga diri, perasaan khawatir, tanda-tanda adanya perasaan terkekan (stres) pada raga, serta pengalaman kejiwaan yang baik dan buruk. Penelitian yang dilakukan dua kali ini, yakni tahun pertama dan kedua setelah kelulusan.

Penelitian atau riset yang dilakukan Christopher Niemic, Richard Ryan, dan Edward Deci ini mengelompokan dua pertanyaan untuk para mantan mahasiswa. Pertama, yang berhubungan dengan persahabatan yang erat dan langgeng, serta sikap menolong memperbaiki hidup orang lain. Bagian ini disebut aspirasi intrinsik, atau keinginan yang bersumber dari dalam diri. Pengelompokan kedua berkaitan dengan keinginan menjadi seorang yang kaya dan mendapatkan pujian. Bagian terakhir ini digolongkan ke dalam aspirasi ekstrinsik, yakni keinginan yang bersumber dari luar. Para peserta diminta menilai kedua jenis cita-cita tersebut. Mereka juga melaporkan sejauh mana mereka telah meraih tujuan itu.

Apa kata peneliti?

Riset menunjukan hasil dari para peneliti bahwasanya cita-cita intrinsik lebih membuat orang bahagia dibanding dengan ekstrinsik. Dengan memenuhi tujuan intrinsic, mereka telah memenuhi dasar kejiwaan. “Cita-cita intrinsik kelihatan lebih dekat hubungannya dengan diri seseorang, lebih pada apa yang ada dalam diri, daripada apa yang ada di luar diri”, jelas Christopher Niezmic.

Berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan kekayaan dan sanjungan di satu sisi tidak banyak membawa kebahagiaan. Sikap tersebut malah membuat diri merasa selalu kekurangan. Meski dipandang sebagai prestasi, pencapaian tujuan ekstrinsik seperti harta, pujian, dan ketenaran belum cukup memuaskan hati. Bahkan, usaha menggapai ‘kenikmatan duniawi’ ini dapat menimbulkan rasa malu, marah, gelisah, sampai gangguan raga seperti sakit kepala, sakit perut, dan kehilangan tenaga.

“Meskipun kebudayaan kita menaruh penekanan kuat pada pencapaian kekayaan dan ketenaran, mengejar tujuan-tujuan ini tidaklah bersumbangsih pada diraihnya kepuasan hidup. Hal-hal yang dapat membuat hidup Anda bahagia adalah berkembangnya pribadi, memiliki hubungan kasih sayang, serta memberi manfaat bagi masyarakat Anda”, kata Prof. Edward Deci.

Peneliti AS ini membuktikan bahwa terwujudnya “American Dream” (Mimpi Amerika) seperti kekayaan, ketenaran, dan sanjugan bukanlah kunci dari kebahagiaan. Sejumlah mahasiswa yang diwawancarai Sciencentral mengenai hal ini pun sepakat (lihat video)

Kunci bahagia

Demikianlah hasil penelitian terbaru tentang kekayaan, kemasyhuran, dan sanjungan. Nyatanya semua itu  tidaklah cukup untuk membawa kebahagiaan.

Pencapaian tujuan hidup intrinsik berdampak baik bagi kesehatan jiwa. Sedangkan tercapainya cita-cita ekstrinsik merupakan pertanda terjangkiti penyakit kejiwaan atau adanya ketidakbahagiaan. 
Cita-cita intrinsik yang berupa hubungan antar-manusia yang dilandasi cinta kasih dan kepedulian, serta dimilikinya keahlian dan keterampilan melalui perjuangan berat, memiliki manfaat yang terasa jumeneng. Sebaliknya, cita-cita ekstrinsik berupa menumpuk harta dan pujian, dirasakan cepat memudar dan segera terlupakan.

Terdapat sejumlah keuntungan lain bagi mereka yang memiliki tujuan hidup intrinsik, yakni silaturrahmi, eratnya hubungan antar-manusia, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat, dan kesehatan raga. Mereka ini lebih merasakan adanya kesejahteraan,  prasangka baik terhadap diri mereka sendiri, pertalian yang lebih erat dengan sesama, dan lebih sedikit memiliki tanda-tanda stres pada tubuh mereka.

Utamakan amal baik

Hasil ini membuktikan betapa ruginya jika tujuan hidup hanya berpacu menumpuk harta dan mengharap pujian yang telah dilalaikan dunia. Ada yang yang ikut kontes bintang agar cepat terkenal. Sebagian bermain lotere, berjudi, bahkan ada yang ke dukun minta jimat penglaris barang dagangan sehingga cepat menjadi jutawan. Seakan-akan, hanya itulah tujuan hidup di bumi, yang ternyata terbukti secara ilmiah tidak membawa kebahagiaan hidup.

Dunia dan isinya bukanlah sesuatu yang kekal. Manusia hendaknya lebih mengutamakan amal baik. Karena, inilah yang telah terbukti secara ilmiah dapat memberikan kebahagiaan dalam hidup, sebagaimana pula diperintahkan Pencipta. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: 

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al Kahfi 18: 45-46).

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan terimakasih.

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

 

 

  • Bagikan Via: