Ternyata Banyak Amalan-amalan Di bulan Syawal selain Berpuasa

  • 2019-06-19 06:16:06

Setelah Ramadan usai, kini kita masuk ke bulan Syawal. Bulan Ramadan yang kita tahu punya  banyak sekali keutamaan. Kita pun perlu menjadikan Ramadan sebagai proses pembiasaan perbuatan baik di bulan-bulan lain setelahnya.

Pada bulan Syawal, tepatnya pada 2 Syawal setelah hari Idul Fitri, umat muslim dianjurkan untuk melakukan puasa selama 6 (enam) hari, baik secara berturut-turut maupun terpisah. Nabi menyebutkan bahwa keistimewaan puasa enam hari Syawal setelah Ramadan ini “…bagai puasa setahun penuh…” (HR. Muslim)

Selain puasa sunah dibulan syawal, ada banyak juga amalan-amalan sunnah si bulan syawal ini. Salah salah satunya menikah dibulan Syawal, menarik bukan untuk dibahas,,,. Berikut ini beberapa amalan yang dianjurkan Nabi, dan bisa Anda lakukan di bulan Syawal:

Menikah di Bulan Syawal

Sebagaimana isi hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, bahwa istri Nabi, Aisyah radliyallahu ‘anha, menyatakan bahwa ia dinikahi Rasulullah SAW pada bulan Syawal. Bagi orang-orang yang telah siap menempuh jenjang pernikahan, mengikuti laku Nabi yang menikah di bulan Syawal ini juga termasuk bentuk mengikuti ajaran Nabi.

Banyak umat muslim diberbagai tempat menyelenggarakan pernikahan di bulan Syawal ini. Hal ini juga merupakan bentuk usaha meneladani Nabi di tengah masyarakat kita, terutama bagi mereka yang sudah siap dan mampu untuk menikah.

Menambal i’tikaf dan amalan sunnah lainnya yang terlewatkan

Sebagian di antara kita mungkin terlewat dari momen-momen beribadah di bulan Ramadan. I’tikaf, membaca Al-Qur’an, atau mungkin ada di antara kita yang tidak berpuasa karena suatu halangan. Puasa Ramadan yang wajib, tentu wajib diganti sesuai dengan keadaan orang yang membatalkannya. Namun bagaimana dengan amalan yang sunnah, seperti i’tikaf misalnya?

Nabi pernah melakukan qadla’ i’tikaf di bulan Syawal, ketika istri-istri beliau membuat kehebohan di rumah, karena mendirikan tenda-tenda di area masjid Nabawi, demi mengikuti i’tikaf bersama Nabi. Beliau pun terkejut, dan meminta para istrinya ini untuk membongkar tenda-tenda yang telah dibuat.

Akhirnya, untuk sementara waktu beliau pun tidak beri’tikaf di masjid. Nabi mengganti i’tikaf yang tidak dilakukan ini di bulan Syawal. Cara menggantinya pun mudah, yaitu meniatkan i’tikaf yang dilakukan di masjid ini untuk mengganti yang terlewat di bulan Ramadan. Anda bisa mengisi i’tikaf itu dengan zikir, membaca Al-Qur’an, dan sebagainya.

Tidak hanya i’tikaf saja yang bisa diganti di bulan Syawal. Ibadah sunnah lain pun boleh diganti di bulan ini. Dalam sebuah riwayat dalam Sunan an-Nasa’i misalnya, disebutkan pula ada seorang sahabat yang biasa puasa pada pertengahan atau awal bulan Sya’ban, tapi kebetulan ia lewatkan. Nabi pun memperkenankan untuk menggantinya di bulan Syawal.

Puasa Ayyamul Bidh

Puasa enam hari di bulan Syawal kita jelas sudah maklum. Bagaimana dengan puasa di tengah bulan? Ya, dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Nabi membiasakan berpuasa di pertengahan bulan, tepatnya tanggal 13, 14 dan 15 tiap-tiap bulan Hijriyah.

Amalan puasa ini oleh para ulama dinamakan puasa ayyamul bidh, karena pada tiga hari itu, rembulan sedang purnama dan tampak cemerlang. Di setiap bulan, kita dianjurkan berpuasa dalam tiga hari tengah bulan tersebut. Tak terkecuali di bulan Syawal. Kalau terasa berat karena pertanyaan “kok kebanyakan puasa, sih?”, menggabungkan niat puasa sunnah ayyamul bidhdengan sekalian puasa sunnah Syawal atau Senin-Kamis, juga diperbolehkan.

Demikianlah amalan-amalan sunnah di bulan Syawal, selain puasa enam hari ternyata masih banyak amalan sunnah yang dianjurkan oleh Nabi SAW. Semoga bulan Ramadan yang kemarin lewat menjadi momen kita belajar untuk lebih mempertahankan kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan di bulan tersebut.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan terimakasih.

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

 

 

  • Bagikan Via: