Kisah perpustakaan terbesar pada masa bani Umayyah

  • 2019-04-30 08:00:50

Duduk khusyuk menenggelamkan diri dalam lautan buku perpustakaan jauh lebih menyenangkan dari pada berada di tengah keramayan pesta. Main-main ketoko buku jauh lebih seru disbanding bernyanyi dengan haluan yang tak terbatas. Semerbak wangi kertas yang melekat pada tiap-tiap dinding perpustakaan yang memberikan ketenangan dibanding aroma terapi apapun.

Membaca terkadang membuat kita lupa akan waktu, yang tadinya pagi terasa cerah telah beranti menjadi merahnya langit disore hari. Tak terasa jari kita sudah jauh membalikan ratusan. Pengetahuan bertambah. Wawasan kian luas. Otak kita butuh akan membaca sebagaimana pedang butuh akan batu untuk di asah.

Membaca merupakan tradisi umat Islam. Bahkan ayat yang pertama turun memerintah untuk membaca. Tradisi ini terus dijaga oleh para pendahulu kita. Para khalifah membangun perpustakaan besar di rumah dan di wilayahnya. Para ulama terus mengkaji ilmu. Menginspirasi umat untuk senantisa membaca buku. Di antara perpustakaan yang terkenal adalah perpustakaan bani Umayyah di Andalusia.

Ibnu Hazm mengisahkan tentang betapa besarnya Perpustakaan al-Umawiyah, “Talid al-Fata – yang merupakan pegawai Perpustakaan al-Umawiyah di Andalus- menceritakan kepadaku bahwa jumlah katalog yang memuat nama-nama buku di sana berjumlah 44 katalog. Setiap katalog terdiri dari 50 lembar. Di dalamnya hanya memuat nama-nama buku saja” (al-Hilatu as-Sira oleh Ibnu al-Abar: ditahqil oleh Husein Mu’nis: 2/203). Jadi katalog buku-buku di Perpustakaan al-Umawiyah terdiri dari 2200 halaman. Ini menunjukkan betapa besarnya perpustakaan milik kerajaan tersebut. Bisa diperkirakan, setidaknya ada 100.000 buku yang memenuhi koleksinya.

Banyak umat yang terlibat dalam pembangun perpustakaan ini sehingga menjadi perpustakaan terbesar di dunia pada saat itu. Salah satunya ialah Abdurrahman an-Nashir. Kemudian putranya al-Hakam al-Mustanshir. Juga para ulama, sastrawan, ahli fikih, berbagai penjuru negeri.

Pegawai-pegawai di Perpustakaan al-Umawiyah adalah para professional yang berasal dari Andalus hingga Baghdad. Mereka adalah para penulis dan cendekiawan. Mereka juga adalah orang-orang yang memiliki perhatian besar terhadap buku.

Para penulis dan cendekiawan itu menulis buku-buku baru, hasil dari penelitian mereka. Kemudian diserahkan kepada para ulama untuk dikoreksi. Setelah mendapat rekomendasi para ulama, barulah buku-buku layak dimasukkan ke perpustakaan. Para penulis pun mendapat imbalan dan penghargaan dari kerajaan.

Seorang sejarawan yang bernama Ibnu al-Faradhi menyebutkan beberapa ulama yang memiliki perhatian besar dalam mengoreksi buku-buku sebelum dimasukkan di Perpustakaan al-Umawiyah di Cordoba dan az-Zahra. Di antaranya adalah al-Imam ar-Rabaji Muhammad bin Yahya al-Azdi.

Ibnu al-Faradhi mengatakan, “Ar-Rabaji Muhammad bin Yahya al-Azdi adalah seorang yang fakih. Seorang imam terpercaya. Ia mengambil riwayat Sibawaih dari jalur Ibnu an-Nuhas. Ar-Rajabi sangat detil dan teliti. Ia juga cerdas dalam beranalogi. Orang-orang mengaguminya sebagai ahli i’rab. Amirul mukminin an-Nashir memintanya untuk menjadi pendidik anaknya, al-Mughirah… …Ia adalah seorang yang shaleh. Wafat pada bulan Ramadhan tahun 358 H.” (Tarikh al-Ulama wa ar-Ruwat lil Ilmi bil Andalus oleh Ibnu Faradhi: Ditahqiq oleh Izat al-‘Ithar Hal: 2/71).

Ahli ilmu lainnya adalah seorang sastrawan yang bernama Muhammad bin al-Husein al-Fahri al-Qurthubi. Ia juga memiliki peranan besar dalam mengoreksi buku-buku yang masuk ke dalam Perpustakaan al-Umawiyah.

Selain kaum laki-laki, ada pula beberapa orang dari kaum perempuan yang berperan besar dalam pembangunan Perpustakaan al-Umawiyah. Di antaranya adalah seorang penulis wanita yang bernama Lubna. Ia adalah juru tulis Khalifah al-Hakam al-Mustanshir, “Ia adalah seorang wanita yang ahli dalam menulis. Ahli nahwu dan syair. Juga ahli dalam berhitung. Ia menguasai banyak ilmu. Tidak ada seorang pun di istana wanita, yang lebih cerdas darinya. Ia adalah wanita ahli arudh (salah satu cabang ilmu Bahasa Arab) dan bagus tulisannya. Lubna wafat pada tahun 374 H.” (ash-Shilah oleh Ibnu Bisykawal: Ditahqiq oleh Ibrahim al-Ibyari: 3/992).

Penulis wanita lainnya adalah Muzanah dan Fatimah bin Zakariya. Muzanah merupakan seorang juru tulis Khalifah an-Nashir li Dinillah. Wanita yang paling baik tulisannya. Wafat pada tahun 358 H (ash-Shilah oleh Ibnu Bisykawal: 3/992). Adapun Fatimah binti Zakariya, menurut Ibnu Bisykawal, ia adalah penulis yang menyenangkan. Orang yang bersungguh-sungguh dalam khat. Dan santun dalam bertutur. Ibnu Hayyan menyebutkan Fatimah wafat pada Jumadil Ula tahun 427 H. Ia wafat dalam keadaan masih gadis (ash-Shilah oleh Ibnu Bisykawal: 3/994).

Seorang orientalis, Julian Ribera, benar-benar kagum dengan kecintaan umat Islam Andalusia akan buku. Ia kagum bagaimana kaum muslimin berjalan dari barat ke timur hanya untuk mengoleksi buku baru. Kaum muslimin terus menambah ilmu pengetahuan mereka dengan membaca buku. Sehingga Cordoba menjadi kota para pemikir, para ahli, dan para ilmuan.

Membaca adalah tradisi umat Islam. Belajar dan mengkaji ilmu sudah menjadi bagian dari sejarah kita. Terlalu banyak tokoh-tokoh inspiratif dalam peradaban Islam. Namun adakah yang mau meneladani mereka?!

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan terimakasih.

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

 

 

  • Bagikan Via: