7 hal cara kita mengelak dari sifat suka menjilat.

  • 2019-04-05 03:19:46

”Kalian pasti akan bertemu dengan orang-orang yang paling Allah benci, yaitu mereka yang bermuka dua. Di satu kesempatan, mereka memperlihatkan satu sisi muka, namun di kala yang lain, mereka memperlihatkan muka yang lain pula.” (HR. Bukhari-Muslim)

Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari sifat penjilat yang kerap kali bermuka dua, dapat dikatakan hal yang bertolak belakang, tergantung di depan siapa dia berbicara. Misi para penjilat sudah jelas hanyalah untuk kepentingan diri sendiri, agar orang lain terutama yang berada di atasnya memandang baik pada dirinya.

Saudara, sebenarnya orang yang beriman pada Allah, tidak mungkin memiliki karakter seorang penjilat, hal ini merupakan sebuah kepastian:

“Menjilat bukanlah termasuk karakteristik moral seorang mukmin.” (Kanzul Ummat, hadits 29364)

Biarpun sebagian besar manusia di muka bumi mempunyai karakter sifat suka menjilat dan bermuka dua, bahkan dihormati oleh banyak orang karena sifat tersebut, seorang mukmin tetap tidak akan menghilangkan prinsip kejujuran dan kebenaran.

“Ketika hari pengadilan makin dekat … orang-orang yang paling dihormati pada zaman itu adalah para penjilat dan orang-orang yang suka mencari muka.”
(HR. Bukhari Muslim)

Kemudian, bagaimanakah cara kita mengelak dari sifat suka menjilat dan mencari muka? Berikut ini cara-cara yang bisa kita praktekkan:

1. Hindari memuji seseorang secara berlebihan

Ali bin Abi Thalib pernah berpesan, ”Memuji lebih dari yang seharusnya adalah penjilatan.” (Nahjul Balaghah, hikmah 347)

Orang yang penjilat biasanya memuji sesuatu secara berlebihan dengan tujuan mendapat perhatian. Ia akan memuji orang-orang kaya, orang-orang berkuasa, orang-orang berilmu, agar mendapat keuntungan dari mereka.

Oleh itu kita perlu menghindari pujian berlebihan terhadap apapun. Karena sesungguhnya segala puji hanyalah bagi Allah.

2. Perbanyak berdzikir kepada Allah SWT dan menjauhi sifat pamer dan riya

”Sesungguhnya orang-orang Munafik itu Menipu Allah, dan Allah akan membalas Tipuan Mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa’: 142)

Orang yang penjilat dimasukan dalam katagori orang munafik, karena mereka hanya bersemangat beribadah di depan orang lain, tetapi ketika sendirian akan sangat sedikit mengingat dan menyebut Allah.

Maka, selisihilah para penjilat dengan cara menambah semangat beribadah justru di saat sendirian dan tak ada seorang pun yang mengetahui.

3. Jangan meminta jabatan atau kedudukan pada manusia, (meminta hanya kepada Allah semata)

“Janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah, dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” (HR. Bukhari)

Sangat Jelas bahwa seorang penjilat suka meminta suatu keuntungan bagi dirinya sendiri, misalnya jabatan, harta, dan lainnya.

4. Membatasi ambisi terhadap harta dan kekuasaan

“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada rusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR. at-Tirmidzi no. 2482, disahihkan asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad, 2/178)

Na’udzubillah. Nafsu terhadap harta, benda dan kekuasaan bisa amat merusak, bahkan dapat merusak agama seseorang, yang berarti ia rela meninggalkan nilai-nilai agama hanya untuk mengejar nafsu duniawinya.

5. Jangan merasa takut pada manusia

Saudara, takut pada manusia merupakan salah satu ciri yang dimiliki seorang penjilat. Ia khawatir jika kehilangan jabatan, maka ia takut menyelisihi atasannya, jadilah ia seorang yang ABS (Asal Bos Senang). Ia khawatir akan tersisih dari pergaulan jika menampakkan simbol keagamaan, maka ia pun menanggalkan pakaian taqwanya.

“Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tapi takutlah kepada-Ku. Dan jangan pula kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (al-Ma’idah: 44)

6. Tidak menggunakan dalil agama untuk memenuhi kepentingan pribadi

Orang dengan sifat munafik dan suka menjilat bisa memutar-mutar ayat dan hadits serta nilai agama dengan lidahnya, hanya untuk kepentingan pribadi semata. Mereka bisa melakukan berbagai bayangan agar manusia terkecoh menyangkanya bersahaja, beriman pada Allah, padahal hati mereka tidak demikian.

“Pada Akhir Zaman akan muncul orang-orang yang tidak segan-segan menggunakan agama demi tujuan-tujuan duniawi dan mengenakan shuf (pakaian dari bahan bulu domba) di depan umum untuk memperlihatkan kesahajaan. Lidah mereka lebih manis daripada gula, tetapi hati mereka adalah hati serigala.” (HR. Tirmizi)

7. Berani mengatakan hal yang benar sekalipun di hadapan penguasa zhalim

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zhalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Orang  penjilat tidak mungkin berani mengatakan kebenaran di hadapan penguasa zhalim terutama jika kebenaran tersebut bisa menyeretnya menjauh dari kekuasaan dan kenikmatan duniawi. Karena nya mereka berani memegang prinsip dan mengatakan kebenaran walaupun pahit kenyataan nya.

Saudara, mudah-mudahan kita terhindar dari sifat munafik, penjilat, serta bermuka dua, seumur hidup kita. Aamiin

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat. Terima kasih

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

 

 

 

  • Bagikan Via: