perhatikan!!! jangan sampai kita tidak tahu.

  • 2019-04-02 06:11:15

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan kepadaku agar aku melihat kepada orang yang ada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang ada di atasku…,” (HR. Imam Ahmad, Thabrani)

Saudara, seberapa sering kita melihat orang-orang yang posisinya lebih rendah dari diri kita, baik itu dalam hal finansial, kesehatan, ataupun hal lainnya?

Contoh halnya dalam bidang pekerjaan, bisa-bisa kita lebih sering menengok ke atas, mengamati orang-orang dengan pangkat lebih tinggi, penghasilan lebih besar, fasilitas lebih banyak. Kemudian  berasa ingin ada di posisi mereka?

Atau juga dalam hal rumah tangga, mungkin kita lebih sering merasa iri pada pasangan suami istri yang terlihat romantis, mempertontonkan kemesraan di depan umum, mempunyai banyak anak, dan terlihat sangat bahagia dengan rumah dan kendaraan yang dimiliki.

Maupun juga dalam bidang kesehatan dan kecantikan, apakah kita sering kagum pada orang-orang dengan tampilan langsing, gigi putih bersih, mata sehat, tubuh tinggi jenjang?

Saudara, ayo kita belajar untuk sering-sering menatap ke bawah! Karena hal tersebut merupakan salah satu wasiat Rasulullah yang perlu diamalkan.

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu,” (HR Bukhari no. 6490)

Rantai sebab akibat yang ditimbulkan dari sikap senantiasa ‘memandang ke bawah’ untuk kehidupan duniawi ini sungguh tak dapat diremehkan, diantaranya:

Seseorang yang terbiasa memandang orang yang lebih rendah darinya dalam hal perolehan nikmat, maka akan menyadari bahwa apa yang dimilikinya adalah hal luar biasa.

Hal ini menyebabkan ia bersyukur, salah satu cara mewujudkan kesyukurannya ia pun beramal, berbagi pada orang lain

Beramal tersebut membuat harta yang dimilikinya bertambah barokah, dan memanggil rezeki lain untuk turut menghampirinya

Dan karena sikap bersyukurnya tersebut ia juga mendapat tambahan nikmat dari Allah, berupa kesehatan, ketenangan hati, keharmonisan keluarga

Tambahan nikmat tersebut menjadikannya makin bersyukur, makin sering bersedekah dan berbagi pada orang lain. Sedekahnya makin melipatgandakan rezekinya dan kesyukurannya membuat Allah makin menambah nikmatNya. Terus demikian siklusnya, kebaikan berbuah kebaikan yang lebih banyak, hal ini diawali dari kebiasaan ‘sepele’ yakni memandang orang-orang yang kondisinya di bawah diri kita.

Akan tetapi apa yang terjadi jika kita melakukan hal sebaliknya, yakni memandang ke atas? Ke arah orang-orang yang diberi nikmat duniawi lebih besar oleh Allah SWT?

Tentu yang te rjadi adalah sebaliknya pula. Melihat orang yang nikmatnya lebih banyak menjadikan diri kita merasa kurang, perasaan kurang membuat kita enggan berbagi, kebakhilan tersebut membuat rezeki tidak barokah, seberapa apapun yang dimiliki selalu kurang, dan ketidak syukuran atas apa yang dimiliki membuat Allah SWT menurunkan azabNya, berupa rasa haus yang tak terpuasi terhadap harta dan dunia.

Saudara, meski itu terlihat remeh, namun biasakanlah diri untuk selalu menatap ke bawah. Perbanyak menengok kebawah, lihat kebiasaan mereka sehari-hari yang bekerja tanpa alas kaki, disengat terik mentari. Lihat pula orang-orang yang cacat, juga orang-orang yang melawan penyakit kronis atau berbahaya, agar kita menyadari nikmat sehat yang kita dapatkan.

Semoga Allah menjadikan kita hambaNya yang pandai bersyukur.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat. Terima kasih

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

 

 

 

  • Bagikan Via: