Tahukah Kalian Seorang Sahabat yang Hartawan Dan DIjamin Masuk Syurga.

  • 2019-04-01 07:47:38

Saudaraku, tahukah kalian salah seorang sahabat yang merupakan hartawan dan juga salah satu dari sepuluh sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga.

Itu lah dia Abdurrahman bin ‘Auf terkenal karena kekayaannya yang sangat melimpah. Setiap muamalah yang beliau lakukan, menghasilkan profit yang amat besar. Kalo kita ubah dengan nilai Rupiah saat ini, infak yang beliau keluarkan semasa hidup saja jumlahnya sudah sangat dahsyat.

Imam Abdullah bin Mubarak, Ath-Thabarani, Abu Nu’aim Al-Ashbahani dan Ibnu ‘Asakir pernah meriwayatkan dari ulama besar hadits dan sejarah, imam Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri yang berkata:
“Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu bersedekah pada masa hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sebanyak setengah hartanya yaitu 4000 dinar. Sepeninggal beliau, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu menyedekahkan 40.000 dinar [setara dengan 17 kilogram emas], membiayai perbekalan perang di jalan Allah sebanyak 500 ekor kuda dan kemudian membiayai perbekalan perang di jalan Allah sebanyak 500 ekor unta. Mayoritas kekayaan berasal dari dunia perdagangan.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala’, 1/81)
nggak cuman itu saja beiau juga menyedekahkan rumah, bukan hanya satu-dua saja, tetapi 30 ribu rumah!

Ja’far bin Burqan berkata: “Telah sampai berita kepadaku bahwa Abdurrahman bin Auf membebaskan 30 ribu rumah.” (Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam An-Nubala’, 1/92 dan Abu Nu’aim Al-Asbahani, Hilyat Al-Awliya’ wa Thabaqat Al-Ashfiya’, 1/99)

Dengan hasil perhitungan minimal yang terdokumentasikan, infak Abdurrahman Bin Auf ini mencapai kurang lebiah 141 Miliar. Coba kita bayangkan betapa banyaknya dan itu belum termasuk sedekah yang tidak ketahuan dan tidak terdokumentasikan.

Dan juga kalau kita menghitung kekayaan beliau dari total ganti hak waris untuk keempat istrinya. Diriwayatkan bahwa keempat istri Abdurrahman bin Auf mendapatkan ganti hak waris sebesar 80.000 dinar (Rp 85 milyar) untuk tiap istrinya, jadi total ganti waris untuk keempat istrinya sebanyak 8 dikali 340 Milyar, yakni 2,72 Trilyun.

Meski beliau banyak harta tetapi, beliau tidak seperti hartawan yang sering kita temui saat ini, ada beberapa sifat Abdurrahman bin Auf yang perlu kita teladani, di antaranya:
1. Tidak dibutakan oleh kekuasaan
Kita mengetahui bahwa banyak hartawan saat ini yang ingin menjadikan dirinya sebagai pemegang tampuk kekuasaan pemerintahan, dengan dalih ingin mengabdi pada masyarakat, tetapi ada yang justru menyalahgunakan kekuasaannya hanya sekedar menambah kekayaan yang dimiliki. Akan tetapi Abdurrahman bin Auf berbeda.
Sebelum Umar bin Khattab akan meninggal dunia, Umar menyuruh 6 orang di antara Sahabat Rasulullah agar mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk dijadikan khalifah yang baru.
ketika itu langsung, semua jari telunjuk menuju kepada Abdurahman bin Auf. Bahkan sekelompok  sahabat telah menegaskan bahwa dialah orang yang lebih berhak menjadi khalifah di antara enam orang itu.
Namun, ia menjawab, “Demi Allah, seandainya diambilkan pisau lalu diletakkan ke atas leherku, kemudian kalian memasukkannya sampai tembus, itu lebih aku sukai daripada menerima jabatan tersebut.”
Jelas sekali bahwa beliau bukanlah orang yang silau dengan kekuasaan.

2. Sederhana dan suka berbaur dengan orang kecil
kebanyakan hartawan saat ini yang ingin menonjolkan kekayaan dirinya melalui apa yang dipakainya dan juga enggan berbaur dengan orang kecil. Conto hal, memakai perhiasan mahal di sekujur tubuh, pakaian-pakaian bermerek, kendaraan cuman ada 3 di dunia, serta menjaga jarak dari orang kecil di sekitarnya seperti pembantu rumahnya, sopirnya, atau satpam.
Berbeda dengan Abdurrahman bin Auf yang amat bersahaja dengan penampilannya dan bahkan tak sungkan berbaur dengan pelayan-pelayannya sendiri, sampai-sampai apabila ada orang yang melihatnya tidak akan bisa membedakan mana tuan dan mana pelayannya.

3. Tidak menganggap dirinya lebih baik dari yang lain
Banyak orang yang berlomba-lomba agar terlihat paling baik, paling dermawan, paling hebat, paling banyak kekuasaannya, dan bangga jika mendapat pujian seperti itu, tetapi tidak demikian sikap yang ditunjukkan oleh Abdurrahman bin Auf, malah ia justru senantiasa menganggap dirinya belum apa-apa dibandingkan orang lain, dan amat banyak mengingat kehidupan akhirat.
Suatu ketika Abdurrahman bin Auf dikasihi makanan, padahal beliau sedang berpuasa. Ia mengatakan, “Mush`ab bin Umair telah terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Akan tetapi ketika dia meninggal tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah (apabila kain itu ditutupkan di kepala, kakinya menjadi terlihat dan apabila kakinya ditutup dengan kain itu, kepalanya menjadi terlihat).
Demikian pula dengan Hamzah, dia juga terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Ketika meninggal, tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah. Aku khawatir balasan kebaikan-kebaikanku diberikan di dunia ini. Kemudian dia menangis lalu meninggalkan makanan tersebut.”

4. Tidak tergoda dengan tawaran duniawi yang sangat meenggiurkan
Banyak hartawan, meskipun sudah memiliki segalanya namun merasa belum cukup dan akan merauk setiap kesempatan yang mendatangkan profit baginya. Abdurrahman bin Auf tidaklah demikian, ia memperlihatkan sikap yang luar biasa sekalipun itu ditawari kenikmatan duniawi yang besar.
Saat ia hijrah ke Madinah, setiap sahabat dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan penduduk asli Madinah. Abdurahman bin Auf pun dipersaudarakan dengan seorang kaya di madinah bernama Sa’ad Bin Rabi Al Anshari.
Melihat Abdurahman bin Auf yang tidak berbekal apa-apa, Sa’ad Bin Rabi Al Anshari serta merta berkata; “Saudaraku, aku seorang terkaya di Madinah. Ambillah separuh hartaku yang kau suka, aku juga memiliki dua istri, pilih yang kau suka, dan nikahilah!”
Abdurrahman bin Auf menjawab, “Semoga Allah melimpahkan berkahNya padamu juga pada keluarga dan hartamu. Saya hanya bermohon agar ditunjukkan arah pasar.”
Sahabat, demikianlah beberapa sikap yang perlu kita pelajari dari seorang hartawan yang telah dijamin masuk syurga oleh Allah. Semoga kita dimudahkan untuk meneladaninya.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat. Terima kasih

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

 

 

  • Bagikan Via: