Ramadhan di masa kolonial

  • 2019-03-27 17:08:34

RAMADHAN ialah bulan yang, ditunggu-tunggu, dan dirindukan setiap manusia beriman. Jauh-jauh hari sebelum tiba manusia beriman telah mempersiapkan segalanya, berupa kesehatan fisik, kemantapan ilmu, ketenangan dan kenyamanan jiwa dan hati, serta kesiapan ekonomi.

Namun Perbedaan penunjukan hari Raya Lebaran sering terjadi di kalangan umat Islam. Seorang saksi sedang mengamati hilal atau bulan baru untuk menentukan awal dan akhir bulan Puasa.

BULAN puasa hampir pergi. Lebaran sebentar lagi datang. Sebagian umat Islam menunggu pengumuman resmi Pemerintah tentang kapan pastinya hari Lebaran. Baik melalui televisi, radio, ataupun internet. Lainnya mengikuti keputusan ormas dan tarekat masing-masing. Bagaimanakah umat Islam pada masa kolonial mengetahui hari Lebaran?

Mari kita bayangkan ketika masa itu.

Waktu itu, Lebaran masih terasa sepi, tak seperti saat ini yang menjadi momen hangat bagi keluarga. Jangankan makan ketupat, sekadar salat saja harus diatur di bawah pengawasan ketat pemerintah kolonial.

Pada masa penjajahan Belanda, salat id berjemaah di ruang terbuka diizinkan pertama kali tahun 1929. Saat itu, salat id dilaksanakan di lapangan terbuka Koningsplein atau Stasiun Gambir, Jakarta Pusat (kala itu masih bernama Batavia).

banyak orang dari berbagai ibu kota berduyun-duyun ke Koningsplein untuk melakukan salah sunah dua rakaat dan takbir bersama itu. Pengeras suara boleh digunakan.

Meski begitu, pemerintah Belanda mengawasi ketat berlangsungnya salat id, termasuk gerak-gerik umat yang bersembahyang dan mendengar ceramah.

Pemerintah kolonial mengawasi betul siapa yang membawakan ceramah, dan apa yang disampaikan saat khotbah usai salat berlangsung.

Belanda paham, ketika itu di Indonesia, benih-benih pergerakan nasional telah muncul dan terasa betul bertumbuh di kalangan kaum muda dan intelektual.

Selain di Gambir, salat Idul Fitri kemudian juga dilakukan di Waterlooplein atau Lapangan Waterloo (sekarang Lapangan Banteng), pusat Batavia.

Dikutip dari arsip Belanda, Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, panitia untuk salat id di Waterlooplein biasanya terdiri dari 14 organisasi massa dan organisasi lain, termasuk relawan.

Untuk memudahkan mobilitas umat Islam menuju Waterlooplein, pemerintah kolonial Belanda saat itu mengerahkan trem ekstra dari Meester Cornelis (kini Jatinegara) ke Benedenstad (Kota Tua).

Salat id selanjutnya juga digelar di dekat Istana Negara. Tentu tetap di bawah pengawasan. Pada masa Jepang, dwitunggal Sukarno-Hatta mengambil jalan politik kerjasama aborasi dengan pemerintahan pendudukan Jepang --yang berisiko yang sempat menjadi blunder.

Saat Idul Fitri, Jepang yang bercokol di Indonesia selama 1940-1945, memberikan keleluasaan bagi rakyat pribumi untuk merayakan Idul Fitri.

Namun, keleluasaan itu ada batasnya. Termasuk batasan waktu. Saat itu, salat id harus digelar pagi buta, usai salat subuh, dengan waktu salat yang juga dibatasi.

Kenapa bisa seperti itu?

Dikutip dari buku Indonesia di Bawah  kendali Jepang 1940-1942, Jepang yang saat itu punya tradisi yang tidak boleh ditinggal sebelum matahari terbit, yaitu Seikerei sama halnya upacara menyembah Dewa Matahari dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit.

Menurut kepercayaan Shinto, agama yang resmi di Jepang itu dari awal Restorasi Meiji (1866) hingga akhir Perang Dunia II (1945), Kaisar Jepang yang merupakan keturunan Dewa Matahari, Amaterasu. Itu sebabnya kala itu orang Jepang memberi hormat pada matahari tiap pagi.

Upacara Seikerei, masalahnya, dilakukan di Lapangan Banteng yang juga jadi tempat salat Idul Fitri. Alhasil, umat Islam Indonesia harus mengalah pada Jepang si “saudara tua” dengan menggelar salat id lebih dini sebelum mentari bersinar.  

Ada pula polemic di bulan Ramadhan yang sampai sekarang masih saja di perdebatkan yakni penetapan Hari Raya idul Fitri. Banyak sekali metode-metode yang dilakuan kan untuk menentukan awal syawal ini, seperti menggunakan metode pancaindera (rukyat), dia memperoleh bantuan dari beberapa orang terpercaya. Orang itu bertugas memantau penampakan hilal pada hari ke-29 bulan Ramadan di sebuah daerah lapang dan lebih tinggi daripada daerah sekitarnya.

Di Batavia, menurut Rahmad Zailani Kiki dalam Genealogi Intelektual Ulama Betawi, wilayah ini terletak di Basmol atau Pisalo. Sekarang jadi bagian wilayah Kembangan, Jakarta Barat.

Para saksi di Batavia biasanya menyiapkan perbekalan diri dengan kitab Sullam an-Nayyirain. Yang ditulis  oleh ulama kelahiran Betawi pada 1878 bernama Guru Manshur Jembatan Lima, kitab ini berisi penjelasan ilmu falak yang mempelajari lintasan benda langit seperti bumi, bulan, dan matahari. Kelak kitabnya menjadi rujukan banyak pesantren di Indonesia dan Malaysia.

Para saksi akan mencatat setiap aktivitas pemantauannya kepada penghulu. Bila saksi melihat hilal, penghulu meneruskan keterangan itu kepada pemerintah kolonial agar menetapkan satu Syawal jatuh keesokan harinya. Puasa pun hanya berlangsung 29 hari.

Pemerintah kolonial kemudian mengumumkannya melalui isyarat tembakan meriam atau tabuhan beduk. Tapi bila saksi tak mampu melihat hilal, puasa jadi genap 30 hari.

Mohammad Roem, diplomat ulung Indonesia sekaligus tokoh Masyumi, pernah berdiskusi perisoal perbedaan hari raya Lebaran dengan temannya pada 1930-an. Roem mengaku pengikut metode rukyat, sedangkan temannya itu anggota Muhammadiyah dan lebih percaya pada hisab.

Sebagai pengikut metode rukyat, Roem menantikan pengumuman resmi dari bunyi beduk di kampung, kota Batavia. “Kalau kita sudah puasa duapuluh sembilan hari, dengan hati berdebar-debar, kita menunggu bunyi beduk, apakah esok hari kita sudah berlebaran, atau harus mencukupkan puasa tiga puluh hari,” kenang Roem dalam “Awal dan Akhir Puasa” termuat di Bunga Rampai dari Sejarah II.

Kepercayaan Roem itu mengundang tanya dari temannya. “Saudara seorang terpelajar, mengapa kok masih mengikuti permulaan dan akhir bulan puasa dengan bunyi beduk? Tidakkah lebih maju untuk mengikuti mereka yang menentukan dengan perhitungan ilmu falak?”

Roem menjawab bahwa baginya metode rukyat dan hilal sama saja. “Yang satu tidak lebih dari yang lain,” tulis Roem. Temannya memahami penjelasan demikian. Debat soal metode pun berakhir. Kemudian debat beralih ke soal persatuan umat Islam. "Apakah perbedaan penetapan akhir puasa menandakan perpecahan umat Islam," tanya Roem.

Teman Roem mengatakan bahwa Islam telah memberi umatnya kebebasan untuk memilih di antara dua cara itu. Lagipula, lanjutnya, “perbedaan paham itu, sudah berjalan berabad-abad.”

Oleh karena itu, jangan sampai umat terpecah karna perbedaan pendapat tentang masalah ketetapan Hari Raya Idul Fitri. Asalkan itu tidak melenceng dari Al-Qur’an dan As- Sunnah.

Karena belum ada jaminan besok kita masih hidup. Oleh karenanya Jadikanlah bulan Ramadhan sebagai bulan yang dirindukan karena bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat dirindukan oleh manusia beriman. Sebab, memiliki kelebihan dan keistimewaan dari Allah Swt dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Maka rindukanlah, berbahagialah, dan sambutlah  dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Marhaban Ya Ramadhan.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat. Terima kasih

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

  • Bagikan Via: