Penting!!! kaitan sejarah adanya garis Wallace dengan Islam

  • 2019-03-25 15:09:06

 

Wilayah Wallacea merupakan makmal alam yang tak ada duanya di dunia. Di dalamnya terdapat pulau yang terkumpul dari potongan-potongan daratan dari berbagai tempat.

Wilayah Wallacea, mungkin tak dinilai penting bagi negara lain, tapi sebaliknya bagi Indonesia. Wilayah itu dinilai laksana makmal yang tak ada duanya di dunia.  

Wallacea merupakan wilayah biogeografis yang melingkungi kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah. Posisinya terpisah dari landasan benua Asia dan Australia. Ini meliputi tiga elemen, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

Nama Wallacea dipakai dari Alfred Russel Wallace, naturalis asal Inggris. Dari perjalanan bertualang di Kepulauan Nusantara selama delapan tahun (1854-1862), ia lalu memilah batas-batas fauna secara geografis, yang dikenal sekarang sebagai Garis Wallace. 

"Jadi Wallace dalam perjalanannya berpetualang Kepulauan Nusantara, dia berdiri di Lombok melihat, lalu sadar ada dua fauna yang berbeda," lanjut Sangkot.

Tak ada batas yang tegas. Akan tetapi perbedaannya sebesar antara fauna di Afrika dan Amerika Selatan dan lebih dari Eropa dan Amerika Utara. 

lewat di antara pulau-pulau yang lebih dekat daripada pulau-pulau yang termasuk dalam kelompok yang sama. "Maksudnya Bali dan Lombok itu kan lebih dekat dibanding pulau lain, tapi garisnya ada di situ," ujar peneliti yang memahami bidang biogenesis dan kelemahan genetik manusia itu. Melihat ini, kata Sangkot, Wallace menjadi yakin sebelah barat merupakan bagian yang terpisah ini contohnya adalah cengkeh. 

Temuan itu yang menguatkan Wallace sebagai ilmuwan dunia yang melahirkan teori seleksi alam dan garis imajiner, Garis Wallace. Garis Wallace ialah garis yang menggambarkan jenis fauna beralaskan ciri-cirinya di kepulauan nusantara: di bagian barat sebagian besar fauna berasal dari Asia, sementara di bagian timur berasal dari campuran Asia dan Australia.

Seperti sebuah kerja ekspedisi besar, bukti-bukti pertunjuk dengan baik bahwa lebih dari 100 laki-laki bekerja untuk Wallace sepanjang petualangannya di area tropis di era itu. Lebih dari 30 laki-laki dibayar sebagai asisten kolektor. Pada tahun 1858, Wallace menyatakan bahwa semua laki-laki yang yang membantunya dalam ekspedisi adalah Muslim.

John van Wyhe, mahir dalam sejarah sains, dan Gerrell M. Drawhorn, mahir dalam antropologi biologis, di tahun 2015 mengangkat sebuah artikel yang berjudul “I am Ali Wallace”: The Malay Assistant of Alfred Russel Wallace”. Artikel disebut menceritakan kisah Ali, seorang remaja yang menjadi asisten kepercayaan Wallace yang ikut berkontribusi besar terhadap karya ilmiah Wallace.

Hasil pengembaraan ilmiah Wallace di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-19 tidak bisa dipisahkan dari bantuan penduduk lokal. Ali, laki-laki Melayu berusia sekitar 15 tahun dari Sarawak Borneo, kini masuk wilayah Malaysia, dilukiskan Wallace sebagai seorang remaja Melayu yang penuh perhatian, bersih, dan dapat memasak sangat lezat.

Ali, yang akhirnya trend dengan sebutan Ali Wallace, awalnya direkrut sebagai juru masak, lalu juru perahu, dan dalam perjalanan berbulan-bulan kemudian naik kelas menjadi kepala asisten Wallace. Wallace menyebut Ali sebagai asisten cerdas, menyenangkan, dapat dipercaya, dan laki-laki muda yang kompeten. Belakangan kisahnya dibuat film berjudul “searching for Ali Wallace”.

Sebagian koreksi terhadap cerita tradisional ditekankan, seperti fakta bahwa Ali tidak sejak awal menjadi asisten pengumpulan spesimen. Ali tidak berkelana dengan Wallace untuk semua pelayarannya, tapi meninggalkannya untuk setahun dan di beberapa tempat Ali tidak ikut. Dan Ali bisa jadi hanya mengumpulkan mayoritas spesimen burung yang didapat Wallace.

Wallahu a’lam bisshawab.

Semoga bermanfaat. Terima kasih

Klik link dibawah untuk melihat projek-projek kami

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

 

  • Bagikan Via: