Inilah Sosok Penyelam Handal, DI Masa Khlifah Umar bin Khatab

  • 2019-03-13 14:40:58

Ada pesan khusus dari Khalifah Umar bin Khattab kepada panglima Abu Musa al Asy’Ari saat ditugaskan mengejar Hurmuzan dan pasukannya, “Sertakan penunggang kuda bernama Majza’ah bin ats Tsaur as Sadusi dalam pasukanmu.” Siapakah mujahid yang bernama Majza’ah ini? Sampai-sampai Khalifah harus menyebut namanya secara khusus agar diikut sertakan dalam satuan pasukan?

Mari kita bahas, kisah sosok mujahid  yang satu ini.

 

Pada saat itu Pasukan Abu Musa dan pasukan dari Bashrah lalu bertolak menuju Ahwaz, yang merupakan daerah kekuasaan Persia. Disamping pengejaran, pasukan islam juga mempunyai target menundukan kota Tustar, yang merupakan tempat persembunyian  si hurmuzan itu. Kota tustar merupakan salah satu destinasi yang sangat indah yan dimiliki oleh Persia, yang berada di dataran tinggi dan memiliki sungai yang besar bernama Dujail, dan juga terdapat waduk yang dibangun oleh Raja Sabur. Tak hanya indah kota Tustar juga memiliki keamanan yang sangat ketat, dan dikelilingi benteng menjulang serta didampingi parit-parit yang mengelilinginya dari ujung ke ujung. Konon katanya benteng tersebut merupakan bebteng terkuat yang pernah dibangun.

Dan benar juga, selama 11 bulan pasukan islam mengepung  daerah tersebut, pasukan islam tidak mampu mendekat sedikitpun. Ada sedikit perang yang mungkin tidak berdampak besar. Nah, disinilah sosok yang bernama Majza’ah yang merupakan sosok yang harus di ikut sertakan melalui pesan khusus Khalifah kepada Abu Musa, menunjukan jati dirinya. Kapan? Saat perang tanding. Bayangkan, ada 100 pertandingan yang berhasil ditumbangkan oleh singa islam yang satu ini.

 Selama 11 bulan lamanya pasukan muslim berperang, yang mengakibatkan pasukan musuh memilih mundur dan masuk kegerbang kota Tustar lalu menutupnya. Dan inilah awal sebuah penderitaaan pasukan muslim karena mendapat serangan balik dari musuh yang mengandalkan senjata sniper dari atas benteng, tak hanya sniper mereka juga mengandalkan sebuah senjata sejenis rantai kail-kail tajam pada ujungnya, dan siapapapun yang terkena  itu, senjata  tersebut akan merobek-robek dagingnya.

Pasukan islam hanya mengandalkan pertolongan Allah. Di saat dalam keadaan genting tersebut tiba-tiba Abu musa kedapatan surat dari salah seorang pemanah musuh yang tertancap di sebuah panah yang tajam. Isi dari surat tersebut  si pelempar bisa menunjukkan celah agar kaum muslimin bisa menembus benteng dan masuk ke kota. Syaratnya, ia dan keluarganya diberi jaminan keamanan. Abu Musa pun menyetujuinya dengan membalasnya melalui anak panah. Lelaki itupun turun dengan diam-diam lalu menjelaskan mengapa ia ‘berkhianat’. Ternyata, Hurmuzan telah membunuh kakak sulungnya, merampas harta dan keluarganya. Karenananya, ia ingin agar pasukan Abu Musa membalaskan dendamnya. Satu pelajaran, kezhaliman kita berpotensi mengubah teman menjadi lawan.

Setelah disepakati, kemudian Abu musa memanggil Majza’ah dan meminta satu orang pasukan Islam lagi yang benar-benar pandai berenang untuk membuka celah itu.

berenang dan siap melaksanakan tugas tersebut. Abu Musa pun menyetujuinya dan memerintahkan agar Majza’ah fokus pada misi untuk mencari celah dan tidak melakukan hal lain.

Orang asing itupun membawa Majza’ah menuju satu lorong yang menghubungkan antara sungai dengan pusat kota. Lorong berair itu kadang lebar sehingga ia bisa berjalan, kadang pula sempit hingga harus berenang dan menyelam. Akhirnya ia bisa sampai di pusat kota, tempat di mana Hurmuzan tinggal. Bahkan dalam penyusupan itu, ia sempat melihat Hurmuzan dan berniat membunuhnya, tapi ia urungkan karena teringat pesan Abu Musa.

Misi sukses. Hari berikutnya, Abu Musa memilih 300 tentara terkuat agar menerobos bersama Majza’ah. Majza’ah berpesan pada pasukan perintis itu agar mereka tidak membawa apapun selain pedang. Bahkan pakaian pun tidak boleh yang berkain tebal agar tidak memberatkan.

Bersamaan dengan itu pasukan Abu Musa juga berangkat menuju gerbang yang direncanakan bakal dibuka dari dalam oleh 300 pasukan. Di sinilah kekuataan Majza’ah kembali tampak. Dari 300 pasukan itu, 220 orang gugur saat melewati lorong bawah tanah yang ganas itu. 80 sisanya, termasuk Majza’ah, berhasil mencapai ujung lalu serempak berhamburan menuju gerbang sembari bertakbir. Takbir mereka disambut takbir oleh pasukan Abu Musa yang telah menunggu dan hendak merangsek ke dalam. Perang pun mendadak pecah dengan dahsyatnya. Gerbang dibuka dan pasukan Islam menyerbu ke dalam.

Dari kejauhan, Majza’ah melihat Hurmuzan. Dengan penuh keberanian, ia mendekat dan langsung berduel dengannya. Akan tetapi, perjuangannya menempuh lorong telah menyedot kekuatannya. Ia berhasil melukai Hurmuzan, tetapi sabetan Hurmuzan lebih dalam dan membuatnya jatuh ke tanah.  Tubuh pendekar hebat itu tersungkur dan menjemput keberuntungannya sebagai syahid.

Lalu, perang pun berakhir, dan Hurmuzan berhasil ditawan. Pasukan Islam pulang membawa berita gembira atas kemenangan mereka, juga sebuah berita takziyah atas meninggalnya pahlawan Islam sejati, Majza’ah bin ats Tsaur as Sadusi.

Bagi kaum muslimin, gugurnya Majza’ah dimedan petempuran adalah sebuah hal  yang sangat mengharukan dan membuat mereka mreasa kehilangan. Tapi bagi Majza’ah sendiri, insya’Allah, adalah sebuah happy ending dari kisah hidupnya yang penuh perjuangan. Tidak masalah meski Hurmuzan tidak tewas di tangannya. Di akhirat kelak, yang akan melambungkan namanya bukanlah nama musuh yang dibunuhnya, tapi seberapa besar perngorbanan yang telah diberikan untuk menegakkan Agama-Nya. Allahu Akbar !

  • Bagikan Via: