Idul Adha Hari Kurban...?

  • 2019-02-11 10:53:40

Pada tanggal 1 September 2017 ini tepat 70 hari selepas hari raya Idul Fitri 1438H bertepatan 10 Dzulhijjah 1438 H, artinya pada hari itu (10 Dzulhijjah 1438 H) kita umat muslim merayakan hari raya Idul Adha 1438 H, pada hari itu juga di kenal sebagai hari raya qurban, hari raya haji. Dimana pada hari itu seluruh umat muslim melaksanakan sholat sunnah dua rakaat lalu dilanjutkan dengan memotong hewan-hewan korban, dan pada hari raya itu beserta hari tasyri’nya umat islam diharamkan  berpuasa.

Bicara tentang ibadah haji maka tidak bisa dilepaskan dari kisah Nabi Allah Ibrahim as, ketika beliau diperintahkan Allah SWT meninggalkan istrinya Siti Hajar dan anaknya yang masih kecil Ismail as dan masih menyusu, di suatu lembah yang tandus lagi gersang tidak tumbuh satu batang pohonpun serta sunyi sepi karena tidak ada penghuni lainnya.

Sedangkan Nabi ibrahim sendiri juga tidak tahu alasannya kenapa dan maksudnya apa perintah Allah SWT tersebut yang menyuruh meniggalkan istri dan anaknya yang masih bayi tersebut di tempat yang paling sepi dan paling sunyi yang berjarak tidak kurang 1600 KM ke utara dari Palestina. Namun nabi ibrahim dan istrinya Siti Hajjar menerima perintah Allah tersebut dengan ikhlas penuh tawakal.

Peristiwa tersebut Allah abadikan ke dalam Al-Qur’an  surat Ibrahim ; 37 yang artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (yang sedemikian itu) agar mereka mendirikan sholat,  maka jadikanlah hati sebagian manusia  cenderung kepada manusia dan berilah  mereka rizki  dari buah-buahan , mudah-mudahan  mereka bersyukur.”

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu abbas, tatkala Siti Hajjar kehabisan air minum hingga tidak bisa menyususi Ismail (bayi), beliau berlari-lari kecil (sya’i) dari Shofa ke Marwah sampai tujuh (7) kali. Kemudian Allah SWT mengutus malaikat Jibril untuk menolong mereka berdua dengan membuat mata air  Zam-Zam di dekat Ismail as diletakkan, yang kemudian menjadi sumber kehidupan Siti hajjar dan Ismail as.

Dengan adanya sumur zam-zam tersebut  para pedagang mampir untuk mengisi perbekalannya. Di sisi lain tanah di sekitar lembah tersebut menjadi subur dan makmur, lembah itu dikenal sebagai kota mekah. Sebuah kota yang aman dan makmur sebagaimana doa nabi Ibrahim as, yang dilukiskan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW dalam qur’an : “Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, “Yaa Tuhanku, jadikanlah (negri Mekah) ini negri yang aman dan berilah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang-orang kafir akan Aku (Allah) akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (TQSAl-Baqorah [2];126)

Idul Adha juga dimaknai hari “Idul Nahr” atau hari penyembelihan. Dimana kaum muslimin yang mampu disunnahkan menyembelih hewan korban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Hal ini untuk memperingati ujian yang paling berat  yang diberikan Allah kepada nabi Ibrahim as. Dimana Allah memberikan anugreah, sebuah kehormatan Kholilullah (Kekasih Allah).

Setelah mendapat gelar Al-Khalil, malaikat bertanya kepada Allah : Ya Tuhanku mengapa Enkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Mu, padahal dia disibukkan dengan harta dan keluarganya? Allah berfirman : “Janganlah menilai hamba-Ku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyahnya saja, lihatlah isi hatinya dan amal ibadahnya kepada-Ku.”

Selanjutnya Allah menginjinkan para Malaikat untuk menguji keimanan dan ketakwan nabi Ibrahim kepada Allah SWT, ternyata kekayaan dan keluarganya tidak membuat lalai dalam taatnya kepada Allah SWT.

Dalam kitab “Miskatul Anwar” diceritakan konon  nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba,  300 lembu, 100 unta, dalam kisah yang lain Nabi Ibrahim mempunyai kekayan  mencapai sekitar 1200 hewan ternak, menurut orang di jaman nya itu suatu jumlah kekayaan yang sangat fantastis dan tergolong seorang milyuner.

Suatu hari nabi Ibrahim di tanya oleh seseorang, : “Milik siapakah ternak sebanyak ini?” Maka dijawablah oleh nabi Ibrahim : “Itu kepunyaan  Allah, namun saat ini masih menjadi milikku. Sewaktu-waktu Allah menghendaki maka aku serahkan semuanya. Jangankan hanya ternak, bila Allah meminta  anak  kesayanganku ismail, maka aku berikan juga.”

Ucapan nabi Ibrahim itulah yang menjadi ujian begitu berat baginya, yaitu ketika nabi ibrahim bermimpi di suatu malam untuk menguji iman dak takwanya kepada Allah dengan mimpi yang haq, untuk mengorbankan putranya Ismail yang kala itu baru berusia 7 tahun. Anak yang rupawan, sehat lagi lincah itu  supaya dikorbankan dan disembelih melalui tangannya sendiri. Sungguh sangat menakjubkan peristiwa spetakuler itu dinyatakan dalam Al-Qur’an yan artinya :

Ibrahim berkata “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab :”wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termaksuk orang-orang yang sabar.” (TQS As-saffat [37] ; 102)

Ketika keduanya siap untuk menjalankan perintah Allah, datanglah syetan  guna membujuk nabi Ibrahim agar tidak menyembelih putranya Ismail. Singkat cerita, nabi Ibrahim membulatkan tekat untuk melaksanakan perintah Allah tesebut,  nabi Ibrahim pun mengambil batu sambil mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar” lalu batu itu dilemparkan ke arah syetan-syetan tersebut,  kemudian diikuti oleh jamaah haji melempar jumrah dalam simbul mengusir syetan.

Kemudian nabi Ibrahim melaksanakan menyembelih atas diri Ismail dengan iklhas dan atas dasar ketakwaan kepada Allah dari keduanya. Ketika pisau nyaris mengenahi leher Ismail. Allah berseru dengan firmanNya, menyuruh menghentikan perbuatannya , tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap Ismail anaknya. Allah telah meridhoi kedua ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka Allah mencukupkan bagi mereka untuk penyembelihan seokor kambing sebagai korban, sebagaimana  diterangkan dalam surat as-Saffat [37] ;  ayat 107-110.

Menyaksikan tragedi pengorbanan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manusia ini malaikat Jibril kagum seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Kemudian dijawab oleh nabi Ibrahim, ; “laailaha illahu Allah Akbar” dan disambung oleh nabi Ibrahim “Allahu Akbar Walillahil Hamdu”

Pelajaran yang bisa kita petik bahwa dalam kehidupan ini pertama kita di atur oleh yang Maha Kuasa yaitu Allah Subhana Wata’ala, kedua tiada ketaatan dan ketakwaan selain kepada Allah SWT, maka kita harus mentaati perintah dan larangannya. Yang ke tiga berani berkorban untuk meraih ridho Allah Subhana Wata’ala, peduli terhadap lingkungan, masyarakat dan orang-orang di sekitar kita, apa lagi kepada masyarakat yang berada di daerah terluar dan terpencil serta rawan pendidikan dan rawan akidah, sebagaiman telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as dan nabi Ismail as. Wa Allahu A’lam bi as-shawwab.

Tim Studio Indonesia Belajar Badan Wakaf Al-Qur’an

Tags: Idul adha
  • Bagikan Via: