Guru Antara Harapan Dan Masa Depan

  • 2019-02-11 10:56:34

Ketika sedang mengantar anak untuk sekolah di salah satu SD Negeri di Jakarta Selatan, di hari pertama aktivitas sekolaha di mulai ini saya tergelitik untuk ikut obrolan beberapa orang tua. Dalam obrolan itu salah satu topik yang menonjol adalah harapan orang tua terhadap dunia pendidikan yang mahal dan minimnya guru yang mempunyai kreativitas dalam mendidik putra-putri kami.

Hal ini bisa kita maklumi, karena tidak sedikit putra-putri kami ini yang terlibat kenakalan remaja seperti tawuran, ugal-ugalan, kebut-kebutan, merokok, padahal sebagian dari mereka masih di bawah umur. Walaupun tidak sedikit pula putra-putri kami ini yang mampu menorehkan prestasi gemilang jauh melampau usianya, baik dalam akademik atau perilaku yang terpuji lainnya.

Dari sini saya lalu coba mencari informasi maraknya kenakalan remaja (anak sekolah) tersebut, hati saya semakin gelisah ketika mendapati bahwa kenakalan remaja ini dari tahun ke tahun semakin meningkat, seperti pengguna narkoba dari kalangan remaja sebagaimana disampaikan oleh Kabag Humas Kombes. Pol. Sumirat Dwiyanto pada detikHelth Rabu 6/6/2012 menyampaikan bahwa sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta total pengguna narkoba 48% adalah pecandu, dan sisanya coba-coba dan pemakai.

Begitu juga  remaja yang terlibat tawuran antar pelajar, kejahatan yang satu ini juga menunjukan tren naik, meski sudah banyak jatuh korban “perang kolosal” antar pelajar terus terjadi. Data Komnas anak menunjukkan kenaikan pada enam bulan pertama tahun 2012, hingga Juni terjadi 139 kasus tawuran di Jakarta, sebanyak 12 kasus mengakibatkan kematian. Pada tahun 2011 terjadi 339 kasus tawuran menyebabkan 82 anak meninggal dunia (vivanews.com 28/9/2012).

Belum lagi masalah keterlibatan ramaja di geng motor, Lembaga Pengawas Kepolisia Indonesia (IWP) mencatat ada tiga prilaku buruk geng motor, antara lain balapan liar, pengeroyokan dan perjudian. Aksi brutal yang dilakukan geng motor di Jakarta saja telah menewaskan 60 orang setiap tahunnya.

Ini  merupakan beberapa permasalahan siswa yang dihadapi oleh guru dan orang tua. Belum lagi permasalahan internal guru itu sendiri juga perlu penyelesaian. Sehingga kita juga sering mendengar keluhan guru bahwa muridnya tidak disiplin, malas belajar, menunda-nunda tugas, angin-anginan, lamban, membolos, merokok, mengobrol saat pelajaran, tidak patuh, dan lain-lain. Di lain pihak siswapun juga mengeluhkan problem perilaku guru yang tidak punya perhatian, pilih kasih, tidak kompeten mengajar, terlalu menuntut, kaku, keras, disiplin berlebihan,sinis, suka marah-marah, dan lain-lain.

Lantas bagaimana cara mengatasi berbagai permasalahan tersebut ? Maka perlu perhatian baebagai pihak tentang cara untuk perhatian siswa. Menjalin komunikasi yang persuasif, menggunakan bahasa proaktif, dan meningkatkat pengetahuan tentang cara-cara menyampaikan materi pelajaran yang efektif. Dari yang disebutkan di atas yang paling penting adalah bagaimana seorang guru mendrive dirinya sendiri layak menjadi teladan yang paling efektif bagi dirinya, bagi muridnya dan bagi rekan-rekan gurunya.

Untuk menjadi teladan dan panutan panutan, maka seorang guru harus memilikikesamaan anatar “kata dan perbuatan”. Sebagai contoh, guru mengajarkan rajin belajar kepada siswa, maka guru tersebut harus rajin belajar, baik dihadapan siswa dan rekan gurunya ataupun diluar mereka. Guru mengajarkan kedisiplinan, maka jangan pernah guru terlambat datang ke sekolah, guru mengajarkan taat pada orang tua, begitu juga jangan sampai ada seletingan bahwa guru tersebut melawan orang tuanya. Guru mengajarkan kejujuran, maka jangan pernah guru mengatur nilai muridnya sesuai dengan kedekatannya. Guru minta dihargai, maka jangan pernah berbuat mencemooh dan mempermalukan muridnya, dan masih banyak lagi contoh-contohnya.

Oleh sebab itu solusi dari masalah tersebut  dimulai dari level pribadi guru  dengan meningkatkan pemahaman profesi keguruannya. Disamping itu citra diri dan kehormatan keguruan dan pendidikan perlu dipulihkan dengan memperbaiki sistem pendidikan yang bermutu.

Masyarakat masih mengharapkan pendidikan dapat menjadi upaya strategis untuk menghasilkan anak bangsa yang beradab, cerdas, dan berakhlak mulia. Untuk itu peran guru sangat vital dalam mewujudkan cita-cita tersebut.   

Dari sini perlu kita memahami kata dan makna guru itu sendiri. Kata guru berasal dari bahasa sansekerta yang merupakan gabungan dua kata, yaitu “gu” yang aritinya kegelapan (darkness) dan “ru” yang berati terang (light) Maknanya guru-lah yang membawa murid-muridnya dari ketidaktahuan menjadi tahu, mengubah muridnya dari memahami menjadi memahami. Dan guru adalah orang yang di gugu dan di tiru. Artinya perilaku guru itu menjadai suri teladan bagi murid-muridnya dan lingkungannya (Agus Wahyono; Guruku harapanku 30-31).

Guru juga disebut pendidik, yang berati orang yang mendidik, artinya orang yang melakukan aktivitas dalam bidang pendidikan. Guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat yakni menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi anak didiknya (muridnya) dengan mentranformasi berbagai ilmu dan kepemimpinan serta akhlak yang mulia bagi generasi penerus. Hal ini memerlukan proses yang panjang dan lama.

Guru bertanggung jawab terhadap pembentukan masa depan menunjukkan bahwa guru berbeda dengan profesi lain, sebab pendidikan adalah proses yang tidak bisa dibalik (irreverible process). Oleh sebab itu memuliakan dan menghargai orang-orang yang muliasebagaimana Sayyidina Ali ra berkata : “ Saya menjadihamba (menghormati dan memulikan) bagi orang yang mengajarkan kepada saya meskipun satu huruf.”

Dari paparan tersebut jelas bahwa guru merupakan tempat harapanku dan masa depanku. Profesi guru yang sangat berat , layaknya seorang profesional maka guru diharuskan memiliki empat kompetensi, yaitu pedagogi, akademis, kepribadian, dan sosial. Dengan memiliki pendidikan yang memadai, jiwa pendidik dengan semangat pengabdian yang tinggi, pribadi yang luhur, akhlak mulia, serta segala sikap dan perilaku yang pantas dijadikan teladan oleh lingkunagn sosial dan sekitarnya.[]

Tim Studio Indonesia Belajar Badan Wakaf Al-Qur’an

  • Bagikan Via: