Kisah Guru Di Kampung Jawara

  • 2019-02-11 10:56:34

Tahun 1985, ketika itu saya 22 tahun, masih sangat muda. Saya menjadi guru honorer di SMA swasta di daerah Rawa Belong. Wilayah ini terletak di antara Slipi dan Kampung Sukabumi di Jakarta Barat.

Kampung Rawa Belong adalah kampung kelahiran si Pitung, jagoan Betawi yang sangat terkenal dan melegenda. Di sana juga bermukim para tuan tanah, centeng, dan jawara. Jawara adalah istilah yang dikenal masyarakat Betawi sebagai orang yang jago silat dan selalu menjadi pemenang (juara) dalam perkelahian.

Pada awal mengajar, saya ditempatkan di kelas II IPS 5. Kelas itu dikuasai oleh seorang siswa pimpinan geng yang sangat berpengaruh di Rawa Belong. Ketika memasuki ruang kelas, hanya ada beberapa orang yang menjawab salam saya. Setengah kelas lainnya bergerombol, bernyanyi, dan bermain gitar. Saya segera menyadari bahwa saya sedang diuji oleh mereka. Saya teringat pesan ayah saya, “Bila menghadapi remaja, kita harus punya strategi. Kita harus berusaha masuk melalui jalan mereka dan keluar melalui jalan kita.”

Saya coba terapkan nasehat ayah saya itu. Saya langsung mengambil inisiatif untuk ke belakang dan bernyanyi bersama. Kelas pun jadi riuh. Ketika satu lagu selesai, saya berteriak, “Lagi, satu lagu lagi.” Suasana mulai saya kuasai sampai lagu ketiga selesai. Setelah itu saya tawarkan kepada mereka untuk membuat acara rekreasi dan bernyanyi sepuasnya sambil memuji pemain gitar dan kelas yang meriah itu. Perlu waktu 30 menit untuk menguasai kelas.

Setelah itu, acara saya lanjutkan dengan perkenalan. Satu per satu saya coba mengenal mereka, saya puji mereka. Misalnya, memuji arti nama mereka yang bagus, penampilan yang baik, senyuman, sikap, keterampilan main gitar, dan menyanyi. Pemimpin geng yang bernama Munir saya puji sebagai  orang yang pendiam tetapi penuh kharisma. Bahkan, murid yang suka berteriak saya puji sebagai calon suporter andal. Suasana kelas pun mencair. Pertemuan pertama saya anggap sukses. Pada pertemuan kedua, saya ementara saya diamkan, yang penting tidak mengganggu.

Pada malam hari, Munir bekerja sebagai “petugas keamanan” atau preman. Wajahnya dingin saorot matanya tajam. Dia bahkan  pernah mengejar guru sambil mengacungkan golok ketika tidak naik kelsa. Banyakanak buahnya  anggota geng tersebar di kelas-kelas lain di sekolah itu. Pihak sekolah kewalahan, bahkan, pihak yayasan memanggil guru silat dari Cimande untuk melatih silat para guru dengan alasan “membentengi” guru dari kemungkinan diserang murid dan orang tua. Alasan yang masuk akal. Sebab, pemandangan aneh terjadi ketika pembagian rapor. Orang tua yang mengenakan pakaian pesilat dengan golok di pinggang berseliweran di pintu gerbang sekolah.

Saya sendiri sebagai guru muda yang masih idealis tidak sependapat dengancara bela diri seperti itu. Saya punya prinsip, dengan kebaikan, hati anak didik bisa kita rebut. Begitu juga Munir. Saya harus menaklukkan hatinya. Begitulah, ketika pertemuan kedua berakhir, saya panggil Munir dengan bahasa yang sopan.

Saat saya minta bantuannya karena ada orang yang mengancam saya. Saya membuat skenario seolah saya sedang diancam orang dan butuh pertolongannya. Respon Munir sangat luar biasa. Dia berkata, : “Saya akan bantu Bapak. Siapa yang berani mengancam Bapak, akan saya sikat.”

Pancingan saya berhasil. Tanpa saya duga, besoknya Munir bertindak. Dia masuk ke ruang kelas. Dia menyampaikan kepada warga kelas, “Lu boleh macem-macem sama guru laen, tapi jangan sama pak Joko. Kalau lu pade berani ngancem pak Joko, Lu sama berhadapan ama gue.”  Saya mendapat laporan dari guru-guru senior yang terheran-heran menanyakan bagaimana saya bisa menaklukkan Munir. Hubungan saya dengan Munir menjadi seperti kaka dan adik karena usia kami hanya terpaut tiga tahun. Saya membantu kesulitannya belajar sampai dia bisa naik kelas dengan kerasnya.

Munir pernah bercerita bahwa dia menjadi preman untuk memprotes bapaknya. “Tanah bapak saya banyak, Pak. Kerjanya jual tanah terus kawin-cerai, kawin-cerai. Saya benci dia, say memutuskan hidup sendiri dengan dapat uang di pasar.” Tutur Munir.

Kami mengobrol di warung bakso. Saya berencana mentraktir dia dengan gaji pertama saya. Namun, saya kalah cepat karena dia sudah lebih dulu membayari bakso saya. Tukang bakso itu tidak mau terima uang dari Munir karena takut keamanannya terancam. Namun, saya memberi kode padanya untuk menerimanya. Siapa yang berani sama preman, pikirnya.

Begitulah, bagi saya, tidak ada kamus melakukan kekerasan kepada siswa. Dengan pewrhatian dan kebaikan hati, anak didik pasti bisa ditaklukkan betapa pun sulit keadaannya. Butuh kesabaran dan strategi. Masuk dari pintu mereka, keluar dari pintu kita” adalah salah satu strategi saya menaklukkan Munir.[]

Dari kisah di atas ada beberapa hal yang telah dilakukan untuk menerapkan strategi mengatasi kelas bermasalah, yaitu :

  1. Menggali  informasi tentang situasi kelas sebelum mulai mengajar.
  2. Menggunakan prinsip “memahami dulu, baru dipahami”
  3. Menawarkan kerja sama untuk saling memahami.
  4. Melakukan pujian, dengan pengertian bahwa setiap anak memiliki kelebihan.
  5. Memberikan kepercayaan dan pengakuan.
  6. Menjalin hubungan baik.
  7. Memelihara hubungan baik.

Dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun kita mesti menjaga sikap dan saling hormat-menghormati sesama manusia. Kisah ini diambil dari kisah nyata seorang guru bernama  Joko Wahyono dalam buku Cara AMPUH merebut Hati Murid.

 

Tim Studio Indonesia Belajar BWA

  • Bagikan Via: