Hari Anak Nasional

  • 2019-02-11 10:56:34

Sejarah hari anak nasional berawal dari gagasan mantan presiden RI ke-2 (Soeharto), yang melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa, sehingga sejak tahun 1984 berdasarkan Keputusan Presiden RI No 44 tahun 1984, ditetapkan setiap tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Kegiatan Hari Anak Nasional dilaksanakan mulai dari tingkat pusat, hingga daerah.

Kemudian untuk menunjang Kesejahteraan anak serta melindungi hak-hak anak-anak, sebenarnya secara hukum dan perundangan, telah banyak hal dilakukan oleh negara. Diantaranya pemerintah Republik Indonesia seperti telah diundangkannya UU No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang memuat berbagai ketentuan tentang masalah anak di Indonesia.

Instruksi Presiden No. 2 tahun 1989 telah ditetapkan tentang Pembinaan Kesejahteraan Anak sebagai landasan hukum terciptanya Dasawarsa Anak Indonesia 1 pada tahun 1986 - 1996 dan Dasawarsa Anak II pada tahun 1996 – 2006

Selanjutnya, dibentuknya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI sebagai insitusi independen guna melakukan pengawasan pelaksanaan upaya perlindungan anak yang dilakukan oleh institusi negara serta melakukan investigasi terhadap pelanggaran hak anak yang dilakukan negara, KPAI juga dapat memberikan saran dan masukkan secara langsung ke Presiden tentang berbagai upaya yang perlu dilakukan berkaitan dengan perlindungan anak.

Usaha lain yang dilakukan pemerintah untuk melindungi anak-anak, yaitu pada Kabinet Indonesia bersatu jilid kedua, Presiden RI (Susilo Bambang Yudhoyono) mengganti nama Kementerian Pemberdayaan Perempuan menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dengan harapan masalah anak menjadi lebih intens dan fokus untuk diperhatikan dan ditangani.

Di samping itu, peringatan HAN ( Hari Anak Nasional ) juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran si anak akan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya kepada orang tua, masyarakat, lingkungan serta kepada bangsa dan negara.

Peringatan HAN ( Hari Anak Nasional ) merupakan kesempatan untuk terus mengajak seluruh komponen warga atau bangsa Indonesia, baik itu orang tua, keluarga, masyarakat termasuk dunia usaha, maupun pemerintah dan negara, untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 yaitu tentang Perlindungan Anak, yang isi undang-undang tersebut melakukan upaya perlindungan dan mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya dan perlakuan tanpa diskriminasi. (netralnews.com)

Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Anak

Lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan  seorang anak. Jika diamati, lingkungan tempat tinggal seorang anak dapat menaikkan atau menurunkan nilai moral serta nilai budaya anak tersebut. Hal ini bisa dibuktikan, contoh, dahulu banyak anak yang mampu menghafal lagu-lagu daerah dengan baik, namun yang terjadi saat ini, sangat sedikit, bahkan menyanyikan lagu kebangsaan saja sebagian  mereka tidak bisa, mirisnya lagi mereka justru sangat fasih menyanyikan lagu seperti “iwak peyek” dibanding Indonesia Raya.

Otak anak-anak telah teracuni oleh tontonan-tontonan yang tidak semestinya, baik tontonan di media sosial maupun tontonan di dunia nyata, sehingga muncullah berbagai kasus kejahatan yang melibatkan anak. Seperti banyaknya anak yang telibat penyalahgunaan narkoba, merokok, menonton video porno dan masih banyak lagi. Disinilah peran lingkungan dibutuhkan, baik lingkungan keluarga sekolah serta masyarakat.

Setiap anak mempunyai sifat, kepribadian  serta cara bersosialisasi yang beragam dalam masyarakat, cara bersosialisasi tersebut tergantung dengan siapa berteman baik di sekolah maupun di masyarakat. Perilaku teman baik atau buruknya sedikit banyak akan berpengaruh dalam perkembangan anak. Saat ini banyak anak kecil yang terbiasa berkata kasar bahkan tidak menghormati orang tua. Hal ini terjadi karena anak sering melihat orang dewasa di lingkungannya berkata kasar bahkan bisa jadi orang tuanya sendiri yang melakukan.

Dalam konteks ini keluarga adalah lingkungan yang utama, anggota keluarga harus mampu menetralkan serta memberikan arahan yang benar tentang pengaruh lingkungan dan norma-norma yang berlaku.Hal ini karena keluarga dapat memberikan pengaruh kuat dan sifatnya langsung berkenaan dengan aspek-aspek perkembangan perilaku anak.

Perkembangan moral anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan keluarganya, oleh karena itu ketika kejujuran, keikhlasan dan gotong royong kerap ditunjukkan oleh masing-masing anggota keluarga, maka dengan sendirinya anak tersebut akan melakukan hal yang sama. Sebaliknya jika anggota keluarga menerapkan perilaku tidak baik seperti berkata bohong, mencuri, berkata kotor dan lain sebagainya anak juga akan lebih cepat menyerap hal itu sehingga moral merekapun menjadi tidak baik.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa baik lingkungan masyarakat, sekolah maupun keluarga sangat berpengaruh dalam perkembangan seorang anak, terutama perkembangan psikisnya. Keluarga sebagai unsur terpenting harus berperan lebih ekstra dalam hal ini, keluarga juga harus lebih pintar dan kreatif dalam memilah-milah pergaulan anak. Sehingga anak Indonesia dapat berkembang menjadi generasi yang berbudi luhur.(kompasiana

Bagaimana Islam menjaga perkembangan mental anak?

Anak Indonesia khususnya belum mendapatkan haknya secara baik, baik dari negara, masyarakat ataupun orang tua sendiri. Dari lingkungan yang ramah anak, ternyata banyak lingkungan kita tidak ramah anak, tontonan, tayangan televisi belum bisa menayangkan tontonan yang mendidik dan membangun karakter anak, tontonan dan tayangan yang ada lebih banyak mengeksploitasi anak dan perempuan. Dari sisi pendidikan juga belum mampu memberikan jawaban yang kongkrit terhadap perkembangan mental dan kepribadian anak.

Pendidikan Islam merupakan hal penting dalam proses membentuk  mental dan kepribadian seorang anak. Pemahaman tentang kepribadian merupakan dasar untuk mengenal diri sendiri yang akan membantu setiap pribadi muslim untuk mengendalikan hawa nafsu, memelihara diri sendiri dari perilaku menyimpang. Pendidikan Islam akan mengenalkan seorang anak kepada Penciptanya, dari mana dia berasal, untuk apa dia diciptakan dan akan kemana setelah mati, Kemudian setiap anak juga ditanamkan budi pekerti sesuai akidah islam yang agung dengan mencontohkan kepribadian dan perilaku Rasulullah SAW dan para sahabat rahimakumullah.

Bahkan dalam Islam, untuk mendidik anak itu dimulai sejak anak masih di dalam kandungan, dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, memperdengarkan kisah-kisah Nabi dan para syahabat kepada janinnya. Ketika baru lahir diperdengarkan adzan di telinga sebelah kanan dan iqomat di telinga sebelah kiri.

Dalam membentuk mental dan kepribadian anak tidak bisa berdiri sendiri, peran orang tua dalam memilih lingkungan untuk tumbuh kembangnya anak-anaknya, lingkungan masyarakat yang ramah terhadap perkembangan mental dan kepribadian anak, sekolah yang mampu mendidik dan mengembangkan ketrampilan, kepribadian dan mental spiritual serta intelektualnya.

Wa Allahu a’lam bish showwab.[]

Tim Studio Indonesia Belajar BWA

 

 

 

 

 

 

  • Bagikan Via: