1 Juni Memperingati Lahirnya Pancasila

  • 2019-02-11 10:56:34

1 Juni 1945 Pancasila lahir, berarti sudah 72 tahun Pancasila dijadikan dasar negara Republik Indonesia. Terpaan dan goncangan silih berganti menguji  Pancasila sebagai dasar negara, tidak pernah reda, bahkan semakin menggila. Sebagai dasar negara maka harus kuat dan kokoh, dan memiliki semangat rakyat Indonesia.
Hal ini bisa kita lihat dari kutipan pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945:


"Dasar negara, yakni dasar untuk di atasnya didirikan Indonesia Merdeka, haruslah kokoh kuat sehingga tak mudah digoyahkan. Bahwa dasar negara itu hendaknya jiwa, pikiran-pikiran yang sedalam-dalamnya, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Dasar negara Indonesia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak keindonesiaannya dan sekalian itu dapat pula mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, aliran, dan golongan penduduk,"

"Dasar negara yang saya usulkan. Lima bilangannya. Inilah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya menamakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa (Muhammad Yamin) namanya Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia kekal dan abadi,"

Bibit itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia. Di mana ketika pada 1 Maret, Kumakichi Harada memberitahukan tentang pembentukan badan yang bertugas menyelidiki usaha persiapan kemerdekaan dengan nama Dokuritsu Junbi Cosakai BPUPKI.
Ketika BPUPKI secara resmi dibentuk pada 29 April 1945, yang ditunjuk menjadi ketua adalah Radjiman Wedyodiningrat, didampingi oleh Raden Pandji Soeroso dan satu orang Jepang sebagai wakil ketuanya.

Soeroso telah memegang posisi ganda, yaitu sebagai kepala sekretariat BPUPKI bersama Abdoel Gafar dan Masuda Toyohiko. Ketika didirikan, BPUPKI memiliki 67 anggota dengan 7 diantaranya merupakan orang Jepang yang tidak memiliki hak suara.

Pada 28 Mei 1945, BPUPKI mengadakan sidang pertama mereka di gedung Volksraad, Jalan Pejambon 6, Jakarta Pusat. Sidang hari pertama ini hanya merupakan upacara pelantikan, dan sidang sesungguhnya baru dimulai keesokan harinya selama empat hari.

Pada sidang ini, Muhammad Yamin menyampaikan pidato dan merumuskan hal yang menjadi awal sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia, yaitu ideologi Kebangsaan, ideologi kemanusiaan, ideologi ketuhanan, ideologi kerakyatan, dan ideologi kesejahteraan. 

1 Juni 1945 Soekarno  mencetuskan dasar-dasar negara yang dinamakan Pancasila. Usulan Soekarno ini ditanggapi secara serius, yang kemudian lahirlah panitia sembilan yang anggotanya terdiri dari Soekarno, Muhamad Hatta, Marami Abikoesno, Abdul Khahar, Agoes Salim, Achamad Soebardjo, Mohammad Yamin, Wahid Hasyim, sebagai hari lahirnya Pancasila, Panca berarti lima sedangkan sila berarti azas atau dasar, Pancasila artinya Lima azas atau lima dasar Negara Indonesia. Setelah melalui perdebatan maka lahirlah teks butir-bitir Pancasila sebagai berikut :

1. Ketuhanan yang maha esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia 

Naskah resmi Pancasila ini baru disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945, satu hari setelah Indonesia merdeka melalui rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), bersamaan dengan disahkannya UUD 1945 sebagai undang-undang dasar negara.

Itulah sejarah singkat lahirnya Pancasila, lalu bagaimana kita mengamalkan butir-butir Pancasila tersebut? 

Setiap 1 Juni diperingati Hari Kelahiran Pancasila secara seremonial, namun belum dipahami oleh seluruh masyarakat sebagaimana mestinya. Hal ini bisa kita lihat dari aktivitasnya masyarakat dari berbagai tingkatan. Contohnya Pelajar SMP – SMA sederajat di beberapa daerah sudah berani mempertontonkan kekerasan (tawuran), terlibat penyalahgunaan narkotika, sex bebas. Dari wakil rakyat juga tidak kalah menariknya, mereka di beberapa kesempatan mempertontonkan kekerasan di dalam sidang, korupsi yang semakin merajalela. Sebagian pejabat negara juga tidak mau ketinggalan, terlibat dalam tindak korupsi, penggunaan kekuasaan secara berlebihan dan lain-lain. Sehingga sebagian masyarakat yang lain kebingungan, bahkan muncul rasa ketidakpercayaannya kepada pemerintah, lalu muncul pertanyaan di benak masyarakat,  mana yang harus dijadikan contoh? 

Pada hal untuk mewujudkan Pancasila sebagai dasar negara, dalam hal ini Negara mempasilitasi dan menjamin setiap masyarakat bisa menjalankan  ibadah sesuai perintah agama yang dianutnya. 

Sebagai pelajar dan mahasiswa, perlu dipahami bahwa pelajar dan mahasiswa itu adalah calon penerus bangsa, maka tempalah kepribadian kalian selayaknya kepribadian para sahabat Rasulullah yang luar biasa.

Sebagai pejabat publik, berilah contoh yang baik yang sesuai jiwa Pancasila, santun dalam menyampaikan aspirasinya, santun dalam memimpin bangsa ini, tinggalkan sikap arogan dan hilangkan prasangka tidak baik terhadap rakyat, tingkatkan pengorbanan untuk bangsa dan negara tercinta ini. 

Masih banyak terjadi ketimpangan pembangunan sarana dan pra sarana antara pusat dengan daerah, apalagi daerah-daerah terpencil dan terluar, belum banyak yang tersentuh perhantian dari pemerintah.

Oleh sebab itu sebagai negara besar,  Indonesia melalui pemerintah perlu menghidupkan kembali rasa tolong menolong dan gotong royong yang menjadi salah satu pilar pembangunan di negeri ini. Seperti dalam bidang pendidikan, pengadaan infra struktur yang belum memadai.

Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) berusaha membantu pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan. Kunjungi web kami di www.wakafquran.org atau indonesiabelajar.org, dan salurkan donasi serta wakaf demi kemajuan bangsa.

Team Studio Indonesia Belajar BWA

  • Bagikan Via: