Alasan kenapa pesawat terbang menghindari terbang di jalur lurus ? - Indonesiabelajar

  • 2021-01-13 13:21:13

Pernahkah kita berpikir bahwa Pesawat yang selama ini kita tumpangi tidak terbang lurus ? Logikanya rute tercepat adalah rute lurus namun kenyataannya adalah Pesawat Justru terbang melengkung jika terlihat di radar.

Contohnya, untuk penerbangan dari Indonesia menuju New York, kita akan lebih dulu mampir ke Singapura, Jepang, atau Korea, kemudian jalurnya memutar melewati bagian utara bumi. Padahal yang kita lihat di dalam peta, keduanya hanya berseberangan

Pada umumnya ada dua set aturan-aturan terkait pemilihan jalur udara, yaitu Instrument Flight Rules (IFR) dan Visual Flight Rules (VFR). Aturan-aturan ini berlaku untuk membuat rencana jalur penerbangan (flight plan) dari suatu bandara asal menuju bandara tujuan. Rencana ini wajib disiapkan sebelum penerbangan berlangsung dan wajib diikuti selama tidak dalam kondisi darurat.

Visual Flight Rules (VFR)

Sebuah penerbangan VFR akan mensyaratkan kondisi cuaca yang cukup cerah sehingga pilot dapat melihat ke mana pesawat bergerak. Pilot harus mampu menghindari halangan-halangan seperti halnya gunung, bukit, pohon, gedung, maupun pesawat lain yang juga terbang di ruang udara yang sama. Peta VFR hanya menunjukkan posisi bandara-bandara, ketinggian daratan tertinggi, kontur daratan, dan ruang udara. Karenanya pilot dapat mengarahkan pesawatnya secara lurus ke tempat tujuan selama tidak ada halangan di depannya.

Instrument Flight Rules (IFR)

Penerbangan menggunakan IFR adalah yang paling umum di dunia penerbangan modern. IFR ini memungkinkan sebuah penerbangan terjadi dalam kondisi jarak pandang yang terbatas seperti halnya dalam kondisi cuaca penuh awan atau kabut asap. Penerbangan dengan IFR akan mensyaratkan adanya instrumen pendukung baik di daratan maupun di pesawat. Sebuah peta IFR akan secara jelas menunjukkan jalur-jalur penerbangan lengkap dengan kode dan waypoint-nya (titik-titik jalur). Peta ini juga akan menunjukkan posisi navigational aids (alat-alat bantu navigasi) seperti halnya DME (Distance Measuring Equipment) dan VOR (VHF Omnidirectional Range). Setiap rencana penerbangan IFR diharuskan taat pada jalur-jalur udara yang ada dalam peta IFR. Hal inilah yang menyebabkan kenapa pada umumnya penerbangan komersial tidak mengambil jalur lintasan yang benar-benar lurus.

Selain mengacu dua set aturan di atas terkait rute penerbangan ada beberapa alasan rasional mengapa pesawat tidak terbang lurus

I. Bumi Bulat

Penjelasan pesawat tidak terbang lurus mungkin sangat erat kaitannya dengan masalah bumi bulat. Di samping itu, alasan lainnya juga lekat dengan fisika dan matematika sederhana. Dikutip dari laman forbes.com, bumi kita pada dasarnya memang tidak datar seperti yang terlihat di peta. Oleh karenanya, rute terdekat bukanlah garis lurus, namun mengikuti lekuk bumi.

Selain itu, bumi juga berputar pada porosnya. Hal itu memaksa bagian tengah bumi sedikit menonjol keluar. Lengkungan bumi dan lebarnya khatulistiwa berarti bahwa melengkung ke arah kutub adalah jarak yang lebih pendek daripada terbang dalam garis lurus. Jadi, rute penerbangan terdekat dari Vancouver ke Paris (49 derajat utara) adalah melalui Greenland (68 derajat utara).

II. Cuaca

Dikutip dari Simple Flying, jarak terdekat bukan berarti selalu merupakan yang tercepat. Angin yang berhembus terlalu kencang juga dapat memperpanjang waktu tempuh. Angin paling ekstrem adalah di wilayah Atlantik. Oleh karena itu, sering kali pilot memilih untuk terbang 100 km lebih utara atau lebih Selatan dari Atlantik. Selain angin, awan cumulonimbus yang biasanya memicu badai juga harus dihindari.

III. Teritorial

Teritorial atau zona terbang di masing-masing ruang udara memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pada umumnya, ada yang membolehkan pesawat sipil melintas dan ada pula yang tidak. Selain itu, jikapun boleh melintas, saat ruang udara di sebuah wilayah tengah konflik atau tengah diperebutkan oleh dua negara atau lebih, hal itu mungkin bisa menjadi alasan sangat kuat untuk pesawat tidak melintas daerah tersebut. Pada beberapa kasus, pesawat pun akhirnya terbang tidak pada garis lurus untuk menghidari teritorial rawan tersebut. Tertembaknya Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH17 rute Amsterdam, Belanda (AMS) ke Kuala Lumpur, Malaysia (KUL) di ruang udara Ukraina merupakan contoh paling fatal dampak politik udara. Sebelum kejadian ini, ruang udara Ukraina menjadi pilihan utama Malaysia Airlines dan Singapore Airlines untuk berbagai rute yang menghubungkan Eropa Barat dengan Asia Tenggara. Jika dilihat dari peta proyeksi jarak Belanda (AMS) ke kuala lumpur (KUL) seolah-olah lebih dekat melalui ruang udara Timur Tengah, namun kondisi kurvatur Bumi menyebabkan lebih dekat melalui ruang udara Eropa Timur. Segera setelah kejadian ini, tak satu pun penerbangan interkontinental yang melalui ruang udara Ukraina.

IV. Air navigation charge

Air navigation charge atau tarif yang harus dibayar maskapai untuk terbang melalui kawasan udara di suatu negara juga menjadi salah satu alasan mengapa pesawat tidak terbang lurus. Sebab, bila terbang lurus, terlepas dari tiga faktor yang disebutkan sebelumnya, pesawat mau tak mau harus melewati beberapa ruang udara suatu negara yang mungkin saja tarifnya lebih mahal dibanding negara lainnya.

Hal ini berlaku untuk beberapa negara di Eropa dan beberapa jenis pesawat. Contohnya, harga terbang melewati Jerman dua kali lebih mahal daripada melewati Polandia. Maka pesawat dari Stockholm, Swedia yang hendak menuju Pisa, Italia biasanya lebih memilih melewati kawasan udara Polandia dengan rute yang lebih panjang.

V. Air Traffic

Traffic mungkin juga jadi salah satu faktor mengapa pesawat tidak terbang lurus. Pasalnya, bila pesawat melewati satu rute yang sama, kepadatan lalu lintas udara mungkin tak terhindarkan. Maka dari itu, jika terlalu banyak jumlah penerbangan melalui rute yang sama, maka beberapa pesawat harus menunda take off atau memilih rute alternatif. Air Traffic Control (ATC) bertugas untuk mengatur traffic yang padat tersebut. ATC berpedoman pada jalur-jalur penerbangan IFR. Jika saja ada pesawat yang melintas secara liar menggunakan trayek garis lurus maka akan berpotensi menabrak pesawat lain yang juga melintas di ruang udara yang sama.

Dunia penerbangan merupakan salah satu bidang usaha yang paling kompleks saat ini. Rute-rute penerbangannya merupakan hasil dari proses rumit yang melibatkan unsur pasar, politik, aturan keamanan dan keselamatan, dan lain-lain.

Wallahu a’lam

Semoga Bermanfaat

(Disarikan dari berbagai sumber)

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

  • Bagikan Via: