HARKITNAS | Menuju Kebangkitan Indonesia Sejati

  • 2019-02-11 10:56:34

Tidak terasa  sudah memasuki  tanggal 20 Mei, dimana setiap tanggal tersebut bangsa Indonesia memperingati “Hari Kebangkitan Nasional” atau yang sering kita dengar dengan singkatan “Harkitnas”. Kebangkitan di ambil dari kata “Bangkit” yang artinya  Bangun (dari tidur, duduk lalu berdiri), bangun kesadarannya. Kebangkitan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berati “ perihal bangkitnya seluruh rakyat Indonesia sebagai satu kesatuan bangsa melawan dan mengusir penjajah melalui berbagai cara.

Melalui tulisan ini mari kita renungkan makna Kebangkitan sesungguhnya sebagaimana yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan pencetus Harkitnas itu sendiri.  Harkitnas adalah hari yang menjadi momentum perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang ditandai dengan lahirnya organisasi Budi Oetomo pada tahun 1908. Gerakan Nasional Budi Oetomo yang berciri polotik disebabkan keberlangsungan Perang Dunia (PD) I.

Kebangkitan nasional adalah Masa dimana Bangkitnya pemikiran Rasa dan Semangat Persatuan, Kesatuan dan Nasionalisme serta Kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang atas bumi pertiwi Indonesia. Kebangkitan pergerakan Nasional  Indosesia itu bukan berawal dari berdirinya Budi Oetomo tetapi sebenarnya diawali dengan berdirinya Sarekat Dagang Indonesia pada tahun 1905 di Lawean, Solo, yang kemudian berdirinya Budi Oetomo pada tanggal 20 Mei dijadikan Hari Kebangkitan Nasional. Itulah sekilas sejarah lahirnya “Harkitnas”.

Kebangkitan bangsa Indonesia dimulai  sejak Indonesia Merdeka. Hal ini ditandai dengan  banyaknya pertumbuhan di bidang pembangunan infrastruktur di kota-kota besar, baik berupa pembangunan sarana jalan, gedung-gedung, listrik, telpon dan perumahan. Namun di beberapa daerah tertinggal dan terluar hal ini belum bisa dinikmati, seperti  jalan-jalan yang masih berlubang dan berbatu, suasana gelap di malam hari karena belum ada aliran listrik yang masuk, transportasi yang belum memadai, komunikasi di sebagian daerah juga masih terkendala,  sulitnya mengakses  air bersih. Dari sisi pembangunan pisik sudah banyak kemajuan, namun  belum merata sehingga  sebagian masyarakat di daerah terpencil dan daerah terluar belum bisa menikmatinya.

Dari sisi pembangunan sarana dan pra sarana pendidikan yang menjadi dasar kebangkitan tersebut juga belum merata. Karena sebagian besar pembangunan infrastruktur sarana dan pra sarana pendidikan juga masih terpusat di kota-kota besar, untuk di daerah terpencil dan terluar ini masih sangat kurang bahkan belum tersentuh pembangunanannya. Kondisi ini menyebabkan lemahnya pembangunan masyarakat setempat, sehingga mengakibatkan lambatnya  pertumbuhan ekonomi pedesaan, langkanya sumber daya manusia yang mumpuni, yang paling berbahaya adalah merosotnya taraf berpikir masyarakat, sehingga mudah diexploitasi  oleh orang  untuk memenuhi kepentingannya  sendiri. Oleh sebab itu tidak ada kata lain dalam membangun bangsa Indonesia ini bukan hanya membangun secara fisiknya saja, tetapi harus di bangun dasar pemikiran, sehingga muncul kesadaran dalam benak masyarakat untuk bangkit membangun kesadarannya agar mampu memberikan sumbangsih kepada bangsa dan negaranya, yakni memberikan akses pendidikan yang luas dan berkualitas kepada masyarakat di pelosok negeri.

Berkaca pada belum meratanya penyediaan sarana dan pra sarana : air bersih, pendidikan dan listrik. Badan Wakaf Al-Qur’an mengajak kaum muslimin di kota- kota besar untuk berbagi hingga pelosok negeri dengan Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan, Wakaf Sarana Air Bersih di beberapa daerah, Wakaf Sarana Listrik, Donasi Kemanusiaan, Indonesia Belajar, Zakat Per To Per, Wakaf Khusus, dan Wakaf Produktif. Berwakaf yuk. Wakaf  Anda akan menyelamatkan akidah sekaligus memajukan mereka yang memetik manfaat, dan mengalirkan pahala yang abadi sepanjang masa. Silahkan kunjungi  www.wakafquran.org

Wa Allahu A’lam bi Ash-Showwab

Tim Studio IB Badan Wakaf Al-Qur’an

  • Bagikan Via: