Tahukah kamu, kabut sebagai sumber air untuk daerah dataran tinggi ? - Indonesia Belajar

  • 2020-08-25 08:49:55

Air merupakan sumber daya alam yang vital bagi keberlangsungan hidup manusia bahkan semua makhluk hidup. Namun saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air ada dua yaitu kuantitas dan kualitas air. Pada saat musim kemarau, kuantitas air yang tersedia tidak dapat mencukupi kebutuhan air sehingga diperlukan konservasi terhadap sumber daya air alternatif terbarukan untuk pemenuhan kebutuhan air. Air di udara umumnya berada dalam bentuk kabut dan awan. Kabut merupakan kumpulan tetes-tetes air yang sangat kecil yang melayang-layang di udara. Kabut mirip dengan awan, perbedaannya adalah awan tidak menyentuh permukaan bumi sedangkan kabut menyentuh permukaan bumi. Pada suhu 30ºC uap air yang terkandung di udara sebanyak 30 gr/m3. Oleh karena itu, uap air dalam kabut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif. Fog harvesting merupakan teknologi inovatif yang didasarkan pada pengumpulan air yang dikumpulkan dari kabut dalam kondisi iklim tertentu. Kabut merupakan uap air yang berada dekat permukaan tanah berkondensasi dan menjadi mirip awan. Hal ini biasanya terbentuk karena hawa dingin membuat uap air berkondensasi dan kadar kelembaban mendekati 100% (Soto Alvarez, 1992). Pemanen kabut adalah teknologi inovatif berdasarkan fakta bahwa air dapat dikumpulkan dari kabut di bawah kondisi iklim yang menguntungkan.

Pengumpulan kabut paling sesuai untuk lokasi yang sering mengalami periode kabut. Daerah dataran tinggi tempat kabut dihasilkan oleh adveksi awan di atas tanah atau tempat awan dipaksa menaiki gunung adalah tempat yang paling cocok, di daerah yang kecepatan anginnya antara 3-12 meter/detik dan tidak ada rintangan terhadap aliran angin. Kabut terbentuk di permukaan samudra, atau kabut radiasi panas malam di dataran rendah yang biasanya tidak memiliki kandungan air dalam bentuk cair yang cukup atau kecepatan angin yang mencukupi untuk pengumpulan air yang memadai.

Sejumlah pertimbangan meteorologis dan geografis penting dilakukan dalam memilih tempat, seperti: arah angin yang mendominasi (adanya angin terus-menerus dari satu penjuru itu ideal), awan yang terbentuk di bawah ketinggian permukaan tanah maksimum, ruang yang cukup untuk pengumpulan kabut, dan tidak ada rintangan utama di darat. Dalam kasus adanya barisan awan pesisir, pegunungan mestinya berjarak 5 atau 10 kilometer dari pesisir.

Dalam kondisi ideal dengan asumsi tingkat efisiensi 80 persen, ketersediaan air dari hasil pemanenan kabut ukuran 1 meter persegi, dapat mencapai 8 liter/hari. Ukuran 16 m persegi bisa menampung 102,4 liter/hari. Sebenarnya, fog harvesting juga bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan air rumah tangga yang diperkirakan sebesar 10 liter per orang per hari serta kebutuhan air untuk memasak sebesar 20 liter per orang per hari.

Bahan yang digunakan tentu saja berpengaruh pada air yang dihasilkan, khususnya jaring pengumpulnya karena tiap bahan menghasilkan volume air yang berbeda.

Alat panen ini bisa bekerja secara manual. Hanya dengan menjaring awan stratokumulus, si awan pembawa jutaan butiran titik air yang terbawa arah angin ke permukaan pegunungan dan sekitarnya, hingga menempel ke lapisan jaring. Dengan prinsip gravitasi, butiran air yang tertangkap jaring akan jatuh ke talang, lalu dialirkan melalui paralon yang ditampung di jeriken.

Dari sisi effektivitas kemudahan konstruksi dan biaya, bangunan penangkap kabut menjadi solusi effektif sebagai alat harvesting dalam mengumpulkan air yang dapat distribusikan dengan kabut.

Wallahu a’lam

Semoga Bermanfaat

(Disarikan dari berbagai sumber)

  • Bagikan Via: