Hardiknas | Mengenang Pendidikan Pada masa Kejayaan Islam

  • 2019-02-11 10:54:52

Berbicara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei di Indonesia, maka tidak bisa dilepaskan dari sosok seorang tokoh pejuang pendidikan bernama Ki Hajar Dewantara, beliau lahir pada 2 Mei 1889 dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, keturunan bangsawan Keraton Yagyakarta.

Beliau mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar ELS dan melanjutkan ke sekolah Belanda yang bernama STOVIA atau Sekolah Dokter Bumiputera, namun tidak sampai lulus dikarenakan sakit. Jenjang karir Beliau pernah bekerja sebagai wartawan di beberapa tempat, yakni Midden Jaya,Sedyotomo, Oetoesan Hindia, De Express, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan mendapat anugerah gelah Doktor Kehormatan Doctor Honoris Causa. Dr.H.C dari Universitas Gadjah Mada (UGM0 Yogyakarta pada tahun 1957. Di samping itu Beliau juga sebagai pendiri “Taman Siswa.” Prinsip dasar dalam sekolah/pendidikan Taman Siswa yang menjadi pedoman bagi seorang guru dikenal sebagai Patrap Triloka. Konsep ini dikembangkan oleh Suwardi setelah ia mempelajari sistem pendidikan progresif yang diperkenalkan oleh Maria Montessori (Italia) danRabindranath Tagore (India/Benggala). Patrap Triloka memiliki unsur-unsur (dalam bahasa Jawa)

· ing ngarsa sung tulada (yang di depan memberi teladan"),

· ing madya mangun karsa (yang di tengah membangun kemauan/inisiatif"),

· tut wuri handayani ("dari belakang mendukung").

Patrap Triloka dipakai sebagai panduan dan pedoman dalam dunia pendidikan di Indonesia.

“Taman Siswa” di Yagyakarta pada 3 Juli 1922. Inilah sejarah singkat lahirnya Hari Pendidikan Nasional.

Namun sayangnya dunia pendidikan sekarang ini belum memberikan kesempatan yang sama dan merata kepada seluruh lapisan masyarakat. Belum lagi ketersediaan sarana dan pra sarana yang masih jauh dari memadai. Dalam pembangunan karakter dan kepribadian juga masih ada ketimpangan, hal ini terlihat dari sebagian kepribadian siswa yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya, serta meningkatnya kenakalan dan masih ada siswa yang terlibat dalam penyalahgunaan obat terlarang (Narkoba). Hal ini disebabkan sitem pendidikan di negeri tercinta ini mengacu pada sistem pendidikan yang liberalistik kapitalistik.

Bandingkan Bagaimana potret pendidikan dalam Islam dimasa kejayaannya?

Dalam Islam mewajibkan seorang muslim untuk menuntut ilmu, baik ilmu agama dan juga ilmu pengetahuan umum lainnya. Sejak kecil sudah dikenalkan dengan Islam, karena Islam menjadi pedoman hidupnya, akidahnya , setiap perbuatan harus disandarkan kepada Islam, Islam juga menjadi sumber hukum perbuatannya, setiap orang diwajibkan memahami mana yang halal dan mana yang haram. Sehingga menjadikan setiap orang mempunyai pribadi-pribadi yang taat, jujur, cerdas serta senang bekerja keras, sebagaiman para sahabat hasil didikan dan binaan Rasulullah saw. Sbb:

Abu Bakar ash Shiddiq 37 tahun Umar bin Khattab 27 tahun Utsman bin Affan 34 tahun Ali bin Abi Thalib 10 tahun sudah hapal al-qur’an dan hadist Thalhah bin Ubaidillah 14 tahun Zubair bin Awwam 16 tahun Saad bin Abi Waqqash 17 tahun Said bin zaid 15 tahun Abu Ubaidah bin Jarrah 27 tahun Abdurahman bin Auf 30 tahun Usia tertua para pembela Nabi dan generasi terbaik dari para sahabat adalah 37 tahun (usia Abu Bakar). Hanya ada dua orang yang usianya di atas 30 tahun; Abu Bakar dan Utsman. Sementara Abdurahman bin Auf pas berusia 30 tahun. Dan tujuh orang di bawah 30 tahun. Dari tujuh orang itu, hanya dua orang yang usianya di atas 20 tahun; Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah (27 tahun). Dan sisanya –subhanallah- berusia di bawah 20 tahun (10 – 17 tahun).

Ada pula Mush’ab Bin Umair seorang negosiator yang cerdas,. Muhammad Al-Fatih diusianya yang baru 17 tahun sudah hafal Al-Qur’an dan menjadi pemimpin pasukan penakluk Konstantinopel. Dan masih banyak sekali

Pada bidang ilmu pengetahuan ada yang dikenal dengan al-Fazari sebagai ahli astronomi, orang yang pertama kali menyusun astrolabe (alat untuk mengukur bintang). Al-Farghani, di Barat dikenal dengan sebutan al-Fragnus, orang yang mengarang ringkasan tentang ilmu astronomi dan bukunya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Dalam bidang optika dikenal nama Abu Ali al-Hasan bin al-Haytham (abad X), namun di Barat dikenal dengan sebutan al-Hazen. Menurut teorinya, yang diakui kebenarannya, “Bendalah yang mengirim cahaya ke mata dank arena menerima cahaya itu mata melihat benda yang bersangkutan.”.

Dalam ilmu kimia dikenal nama jabir bin Hayyan dengan julukan bapak al-Kimia. Kemudian Abu Bakar al-Razi (856-925 M) adalah pengarang buku terbesar tentang kimia. Dalam bidang fisika ada Abu Raihan Muhammad al-Baituni (973-1048 M) yang menemukan teori tentang bumi berputar sekitar porosnya juga melakukan penyelidikan tentang kecepatan suara dan cahaya, serta berhasil menentukan berat dan kepadatan 18 macam permata dan metal. Dalam bidang geografis dikenal nama Abu al-Hasan Ali al-Mas’ud, seorang pengembara yang mengadakan kunjungan ke berbagai penjuru dunia Islam. Bukunya Maruj al-Zahab, berisi tentang geografi, agama, adat istiadat dari daerah-daerah yang dikunjunginya.

Pengaruh Islam terbesar terdapat dalam bidang ilmu kedokteran dan filsafat. Dalam bidang kedokteran dikenal al-Razi, yang di Eropa dikenal dengan namaRhazes. Al-Razi menulis masalah cacar dan campak. Begitu pentingnya buku ini sehingga diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa Eropa. Bukunya, al-Hawi, yang terdiri dari 20 jilid, membahas berbagai cabang ilmu kedokteran. Nama lain dalam bidang ini adalah Ibnu Sina (980-1037 M), selain filosof juga seorang dokter. Ibnu Sina mengarang ensiklopedia ilmu kedokteran yang berjudul al-Qanun fi al-Thib. Buku ini secara berulang diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa.

Dalam bidang filsafat dikenal nama-nama seperti al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd. Diantara mereka yang pengaruhnya kuat di Eropa adalah Ibnu Rusyd, yang dikenal dengan sebutan Averros. Bahkan di Eropa ada aliran yang bernama Averroism. Al-Farabi mengarang buku-buku filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi tentang filsafat Aritoteles. Sementara Ibnu Sina di Eropa dikenal sebagai penafsir filsafat Aristoteles.

Dalam periode ini pulalah lahirnya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan Islam. Diantaranya adalah penyusunan al-Hadits. Dalam bidang ini terkenal nama al-Bukhari dan Muslim (abad IX). Dalam bidang fiqih atau hukum Islam muncul nama-nama yaitu Malik bin Anas, al-Syafi’I, Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal (abad VIII dan IX). Dalam bidang tafsir antara lain dikenal al-Thabari (839-923 M). Dalam bidang sejarah dikenal nama Ibnu Hisyam (abad VIII) dan Ibnu Sa’d (abad IX). Dalam bidang ilmu kalam dikenal nama-nama seperti Wasil bin Atha’, Abu Hasan al-Asy’ari dan al-Maturidi (Ahlus Sunnah). Dalam bidang Tasawuf lahirlah nama-nama Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husein bin Mansyur al-Hallaj dan seterusnya. Dalam bidang sastra dikenal nama abu Farraj al-Isfahani dengan bukunya Kitab al-Aghani. Perguruan tinggi yang didirikan pada masa ini antara lain Bait al-Hikmah di Baghdad dan al-Azhar di Kairo, dan banyak lagi.

Pada Allah jualah kita meminta perlindungan dan keikhlasan, agar selalu diberi pemahaman akidah yang baik dan lurus, serta diberi anugrah untuk selalu berbaik sangka.

#YukBerbagi Hingga Pelosok Negeri di indonesiabelajar.org

  • Bagikan Via: