Tahukah kamu, Sosok Ulama Besar Aceh yang pertama kali menerjemahkan Al Qur’an di Nusantara ? - Indonesia Belajar

  • 2020-06-22 18:36:44

Beliau adalah Syaikh Abdur Rauf bin Ali Al-Fansuri As-Singkili. Nama Lengkapnya adalah Aminuddin Abdul Ra’uf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri Al-Singkili. Syaikh Abdurrauf lahir di Singkil Aceh pada tahun 1024 H/1615 M. Beliau adalahseorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Menurut beberapa riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13.  

Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian belajar belajar pada ulama-ulama di fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses perjalannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami Agama Islam.

Di waktu kecil Syeikh Abdurrauf mendapat pendidikan pertamanya dari orang tua sendiri, itu dikarenakan ayahnya adalah seorang ulama yang memiliki dayah (madrasah) sendiri di Simpang Kanan. Menurut A. Hasjmy setelah menyelesaikan pendidikannya pada sebuah dayah tinggi (Aceh : Dayah Manyang) di Barus yang dipimpin oleh Hamzah Fansuri. Selanjutnya belajar pada Syeikh Syamsu Al-Din Al Sumatrani diperkirakan dayahnya di wilayah Pase. Terakhir Al-Singkili belajar di Timur Tengah, meliputi Dhuha (Doha), Qatar, Yaman, Jeddah dan akhirnya Mekkah dan Madinah selama 19 tahun. Menurut catatan Al-Singkili sendiri yang ditulis dalam Umdat Al-Muhtajin ila Suluk Maslak Al-Mufridin, ada 19 orang guru yang dia belajar langsung dalam bermacam disiplin ilmu. Selain itu juga dia mempunyai hubungan pribadi dengan sejumlah ulama-ulama lain yang sangat mungkin ini merupakan teman diskusi dalam ilmu-ilmu tertentu. Beberapa ilmu yang disebutkan Al-Singkili adalah Abd Al Qadir Al-Mawrir ketika di Qatar.

Di Yaman dia belajar kepada pada Ibrahim bin ‘Abdullah bin Jaman dan Qadhi Ishaq. Guru-gurunya di Yaman nampaknya ahli dalam bidang Hadis dan Fiqh. Seperti dipetakan kebanyakan ulama Yaman adalah murid dari Ahmad Qusyasyi dan Ibrahim Al-Kurani, yang pada akhirnya Al-Singkili sendiri juga belajar pada Ahmad Qusyasi dan Ibrahim Al Kurani.

Dalam pengembaraan ini, As-Singkili memakan waktu kurang lebih selama 19 tahun. Dalam rentang waktu tersebut, ia belajar agama kepada tak kurang dari 19 guru, 27 ulama masyhur, dan 15 tokoh mistik kenamaan. Dari sejumlah gurunya, tampaknya yang paling berpengaruh adalah Ahmad Al-Qusyasyi dan Ibrahim Al-Kurani.

Pada sekitar tahun 1072/1661 as-Sinkili kembali ke Aceh. Dalam waktu singkat kharisma As-Singkili menguat dan mampu memagut simpati Sultanah Safiyyatuddin yang memerintah Kesultanan Aceh ketika itu, tahun 1645-1675.

As-Singkili kemudian diangkat sebagai Qadi Malik Al-'Adil atau mufti yang bertanggung jawab atas masalah-masalah keagamaan. Hingga pada tahun 1693, ia wafat dan dikebumikan di samping makam Teungku Anjong yang dianggap paling keramat di Aceh.

As-Singkili adalah ulama yang sangat produktif. Tak kurang dari 30 kitab dari berbagai disiplin ilmu telah dihasilkan. Di antara kitab-kitab karangannya adalah:

  • Syarh Lathif ‘ala Arbain Hadistan lil Imamin Nawawi.
  • Sullamul Mustafidin
  • Risalah Mukhtasharah fi Bayani Syuruthisi Syaikhi wal Murid.
  • Fatihah Syeikh Abdur Rauf.
  • Daqaiqul Huruf.
  • Sakratul Maut.
  • Risalah Simpan.
  • Mun-yatul I’tiqad.
  • Bayanul Ithlaq/bayanut Tajalli.
  • Risalah A’yan Stabitah.
  • Risalah Jalan Ma’rifatullah.
  • Kifayatul Muhtajin ila Masyrabil Muwahhidi nal Qa-ilin bi Wihdatul Wujud.
  • ‘Umdah Muhtajin ila Sulukil Mufarridin.
  • Washiyah.
  • Mir’atul Thulab fi Tas-hili Ma’ritah Ahkamisy Syar’iyah lil Mulkil Wahhab.
  • Turjumanul Mustafid.
  • Mawa’izhul Badi’ah.
  • Idhahul Bayan li Tahqiqi Masailil Ad-yan.
  • Majmu’ul Masail.
  • Hujjatul Balighah ‘ala Jumu’atil Muqasamah.
  • Ta’yidul Bayan Hasyiyah Idhahil Bayan.
  • Syamsul Ma’rifah.
  • Pindahan Dari Otak Ilmu Tasawuf.
  • Tanbihul ‘Amil Fi Tahqiq Kalamin Nawafil.
  • Umdatul Ansab

Dalam bidang tafsir Alquran, As-Singkili memang bertekad untuk menulis tafsir terlengkap berbahasa Melayu. Sebelum Tarjuman Al-Mustafid memang telah ada sepenggal tafsir atas Surah Al-Kahfi yang ditulis pada masa Hamzah Al-Fansuri. Namun sayang, tidak diketahui secara pasti siapa penulisnya.

Meski As-Singkili tidak menorehkan angka tahun untuk penyelesaian Tarjuman al-Mustafid, namun diyakini tafsir ini ditulis selama masa karirnya yang panjang di Aceh pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18.

Tafsir ini tercatat sebagai tafsir paling awal yang ditulis secara lengkap. Karena itulah, sangat wajar jika tafsir ini beredar luas di wilayah Melayu-Indonesia. Bahkan edisi cetaknya juga tersebar di komunitas Melayu di Afrika Selatan.

Yang tak kalah penting, edisi cetaknya tak cuma diterbitkan di Penang, Singapura, Jakarta, dan Bombay, tetapi juga di Timur Tengah. Di Istanbul, tafsir ini diterbitkan oleh Mathba'ah al-Utsmaniyyah pada 1302/1884.

Di kemudian hari, tafsir ini juga diterbitkan di Kairo oleh Sulaiman Al-Maragi, dan di Mekkah oleh Al-Amiriyyah. Di Jakarta, tafsir ini diterbitkan pada tahun 1981.

Wallahu a’lam

(Disarikan dari berbagai sumber)

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

  • Bagikan Via: