Ilmuwan Muslim Penunjuk Perbedaan waktu -Indonesia Belajar

  • 2020-02-05 07:17:24

Abu al-Wafa’ lahir di kota kecil bernama Buzhgan (sekarang Torbat-e Jam), Khurasan pada 1 Ramadan 328 H, bertepatan dengan 10 Juni 940 M. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Yahya bin Ismail bin al-‘Abbas Abu al-Wafa’ al-Buzjani.

Khurasan merupakan sebuah wilayah yang banyak melahirkan dan membesarkan sarjana Muslim masyhur. Provinsi yang terletak di negeri Persia itu (kini Iran) memberikan kontribusi besar bagi kejayaan peradaban Islam klasik melalui tokoh-tokoh ilmuwan, filsuf, dan sufi seperti ‘Umar Khayyam, al-Ghazali, Jabir bin Hayyan, Nashir al-Din al-Thusi, termasuk Abu al-Wafa’.

Sejak masih kecil, kecerdasan Abu al-Wafa’ sudah tampak dan hal ihwal itu ditunjang dengan minatnya yang besar di bidang ilmu alam. Dia belajar matematika dari pamannya, Abu Umar al-Maghazli, dan Abu Abdullah Muhammad Ibn Ataba. Sedangkan ilmu geometri dikenalnya dari Abu Yahya al-Marudi dan Abu al-Ala’ Ibn Karnib.

Imuwan Produktif

Karya-karya Abu al-Wafa’ di bidang astronomi dan matematika memang melimpah, tetapi sayangnya banyak yang hilang. Komentar-komentar kritis darinya terhadap karya-karya matematika dan astronomi Yunani juga banyak yang tidak berbekas lagi.

Salahsatu, karya Abu al-Wafa’ berjudul al-Kamil telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa, salah satu di antaranya oleh Carra de Vaux dalam bahasa Perancis pada 1892. Buku itu mirip dengan kitab klasik terkenal Almagest, yaitu sebuah buku besar yang disusun Claudius Ptolemeus yang diterbitkan di Alexandria pada 140 SM. Buku teks daras itu berisi pengetahuan astronomi kuno dan menguraikannya berdasarkan pandangan geosentrisme.

Menurut Seyyed Hossein Nasr (1968), meskipun al-Kamil merupakan versi Almagest yang disederhanakan, Abu al-Wafa' juga membahas bagian kedua eveksi Bulan sedemikian rupa sehingga sarjana Perancis L.A. Sedillot pada abad ke-19 menganggapnya sebagai penemuan ilmuwan Baghdad itu. Dalam buku itu, Abu al-Wafa’ berhasil memperbaiki kekeliruan dan teori Ptolemeus mengenai gerak Bulan.

Jasa terpenting Abu al-Wafa’ terletak pada bidang trigonometri. Salah satu kontribusinya dalam trigonometri adalah mengembangkan fungsi tangen dan menemukan metode untuk menghitung tabel trigonometri. Ia juga dianggap sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan sinus dan kosinus.

Trigonometri merupakan istilah dari bahasa Yunani, yakni trigonon (tiga sudut) dan metro (mengukur). Trigonometri memiliki peran sangat vital dalam matematika modern. Saat arsitek menegakkan bangunan-bangunan tinggi yang kokoh dan megah, mereka memerlukan ilmu trigonometri. Mereka tidak akan bisa membangunnya dengan baik jika tidak menguasai ilmu trigonometri dengan baik pula.

Abu al-Wafa dalam salahsatu karyanya juga pernah memberikan penjelasan terkair karya ilmuwan lain. Misalnya, dia menjelaskan teori aljabar dari tiga ilmuwan yang memiliki latar belakang dan kebangsaan yang berbeda. Ada tiga buku yang ditulisnya untuk menjelaskan teori aljabar versi Deofantos, Abarchos, dan Al-Khawarizmi. Sayang, semua buku ini hilang, sehingga kita tidak bisa mendapatkan pemikiran utuh yang disampaikan Abu al-Wafa’.

Menunjukan perbedann waktu

Abu al-Wafa sangat terkenal tidak hanya dalam bidang matematika, namun juga astronomi. beberapa tahun dihabiskannya untuk mempelajari perbedaan gerak bulan. Untuk memantau bintang dari observatorium, Al-Wafa membangun dinding kuadran pertamam di dunia. Sederet karya besar telah dihasilkannya seperti ikut berkonstribusi membuat perbedaan waktu antara tempat tinggalnya di Baghdad dengan Kath (Uzbekistan masa kini). Bersama Al-Biruni, mereka sukses menunjukan perbedaan waktu sekitar satu jamdalam perbedaan lintang dengan nilai dua derajat.

Mengenang Abi al-Wafa

Untuk mengenang jasanya dalam bidang astronomi, nama Abul Wafa pun diabadikan sebagai nama salah satu kawah di bulan. Kawah di bulan memang diberi nama berdasarkan nama ilmuwan yang telah berjasa dalam mengubah dunia. Ada beberapa ilmuwan Islam yang juga namanya diabadikan sebagai nama kawah di bulan. Namun kebanyakan menggunakan nama panggilan barat bukan nama aslinya dan salah- satunya nama Abul Wafa saja yang tak diganti dengan nama barat dan tetap menggunakan nama asli 'Abul Wafa'. Kawah Abul Wafa berada di koordinat 1.00 Timur, 116.60 Timur dengan diameter 55 km dan kedalaman 2.8 km.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan terimakasih.

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

 

  • Bagikan Via: