Pengobatan Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam

  • 2019-09-11 04:10:43

Banyak kalangan menyatakan bahwa ilmu pengetahuan berkembang pada era Islam. Hadirnya Islam dinilai mengubah tatanan seputar pengetahuan bangsa Arab, tak terkecuali dalam ilmu-ilmu terapan. Sebelum lebih jauh membahas dampak Islam pada tradisi pengobatan, menarik ditelusuri perilaku masyarakat Arab sebagai tempat hadirnya Islam pertama kali.

Sering kita mendengar di kampus atau majelis dakwah: ilmuwan muslim yang bisa mengembalikan kejayaan Islam, seperti Ibnu Sina, Ar Razi, dan tokoh lainnya. katannya tradisi keilmuan mereka pada masa itu dinilai tidak banyak sejalan dengan tradisi lama pengobatan Arab.

Padahal tradisi lama pengobatan Arab ini banyak disertakan dalam teks-teks sumber hukum Islam. Seperti dalam kitab hadis, banyak disertakan cara pengobatan orang Arab ini dalam bab tersendiri. Seiring dakwah Islam, tradisi pengobatan Arab yang ada dalam hadis ini dinilai sementara ulama sebagai bagian ajaran Islam juga.

Untuk mengetahui tradisi ini, para peneliti melakukan analisis mendalam pada teks sejarah dan sastra karya masa itu melalui analisis filologis. Cara ini yang dilakukan oleh Manfred Ullmann, seorang sejarawan cum filolog dalam bukunya Islamic Medicine. Buku ini menyimpulkan temuan-temuan tertua syair, prasasti, monumen serta beragam artefak lain yang menggambarkan tradisi kedokteran bangsa Arab.

Para praktisi pengobatan disebut tabib – dari bahasa Arab thabib, turunan kata thabba-yathibbu yang secara umum berarti penyembuh. Para tabib ini mengobati sesuai dengan pengetahuan dan kepercayaan yang mereka miliki, dan pengetahuan itu terikat dari konteks budaya yang berkembang pada masa itu. Masyarakat Arab kala itu bisa dibilang adalah bangsa yang nyaris tereksklusi dari peradaban: berada di dataran gurun, jauh dari lautan.

Ullmann mengatakan bahwa pada kurun abad 2 sampai 6 Masehi, penyakit endemik didataran Arab adalah malaria, tuberkulosis, amebiasis, cacar, kusta, disentri, serta malnutrisi yang terjadi di pelosok-pelosok desa. Beragam jenis infeksi cacing seperti cacing pita, cacing tambang, serta parasit gurun lain sering ditulis dalam syair-syair kuno Arab.

Semakin sering terjadi suatu penyakit, semakin mampu para sastrawan Arab kuno menggambarkannya dengan istilah berbeda. Soal penyakit mata misalnya, dari namanya saja sudah sangat beragam: ada yang disebut kam’ah, asha’, ama’, ramad, qama’, dan banyak sebutan lain juga untuk menyatakan gangguan penglihatan, mulai dari infeksi mata hingga kebutaan.

Tuberkulosis dan kusta menyebar kemana-mana, orang mendapat stigma. Syair-syair begitu populer menyebutkan penyakit sillun atau sulal, atau menyebut barash dan judzam untuk kusta. Ullmann menyebutkan, para penderita penyakit ini disingkirkan jauh-jauh dari masyarakat.

Adanya beragam macam kosakata penyakit menunjukkan masyarakat Arab punya cara untuk membedakan satu penyakit dengan lainnya. Mereka mencegah dan mengobati penyakit berdasarkan ajaran leluhur atau mitos-mitos yang berkembang lama di masyarakat. Penyakit sering diasosiasikan dengan sihir atau guna-guna.

Satu kasus dipresentasikan Manfred Ullmann, malaria pernah menjadi wabah di daerah lembah seperti daerah Tihama, ‘Asir juga Khaybar. Seorang pria di Khaybar, disebutkan terkena demam tinggi dan keringat dingin yang harinya muncul selang-seling. Masyarakat Badui Arab yang datang ke Khaybar berperilaku seperti keledai – dengan tujuan agar tidak tertular demam. Dalam kepercayaan mereka: demam hanya menyerang manusia, karena itu dengan bersikap “kurang manusia”, mereka tak akan tertular.

Sebagaimana dijelaskan Ullmann, masyarakat Arab memiliki sudut pandang yang animistik. Penyakit dinilai merupakan serangan roh jahat. Karena itu, orang-orang menggantung kain yang dibalur darah menstruasi dan tulang-tulang mayat di rumah-rumah sebagai azimat. Saat terkena bisul yang membesar, orang Arab melakukan puja-puji sambil sambat di depan berhala dan tenda-tenda kabilah, lalu mengumpulkan roti dan buah dalam sebuah wadah yang akan dihabiskan di depan anjing atau diserahkan padanya.

Para perempuan yang masih produktif atau punya riwayat keguguran, diminta menginjak-injak mayat orang mulia yang terbunuh. Harapannnya anak mendatang akan hidup lebih lama. Untuk mencegah parafimosis (kulit ujung penis tidak dapat ditarik), bayi tidak boleh lahir di bawah cahaya rembulan.

Untuk materi obat, masyarakat Arab mengenal kencing unta sebagai “obat istimewa”, karena digunakan dalam banyak hal. Kencing ditampung dan kadang direbus dulu, lalu dibalurkan pada badan yang sakit atau diminum. Darah para raja/kepala suku diminum sebagai obat rabies. Seperti di legenda-legenda dunia: darah orang mulia dan luhur, dinilai akan menjadi tombo.

Metode yang sering digunakan sebagai metode bedah adalah kauterisasi (menyulut badan dengan besi yang dipanaskan) dan bekam. Pengobatan dengan besi panas itu (dalam hadis disebut kayy) digunakan untuk mengobati gangguan mental, kudis, keropeng, luka terbuka, dan lainnya.

Di samping pengetahuan seputar pencegahan dan pengobatan, masyarakat Arab sering menyebut dalam syair-syair kuno organ hati (hepar/liver), jantung, limpa, lambung dan usus. Konon, sedikit banyak masyarakat sudah memiliki konsep tersendiri tentang fungsi-fungsi organ ini.

Bahkan, hati atau liver ini disebut-sebut merupakan pusat kendali perasaan dan proses berpikir. Seseorang yang penuh kemarahan dan kebencian, livernya bisa-bisa berwarna kehitaman; begitupun sebaliknya, jika perilaku seseorang bersih, maka liver atau hatinya itu akan putih.

Sebagaimana dalam perihal penyakit, masyarakat Arab tampak memiliki kemampuan deskriptif yang baik. Mereka mengidentifikasi pembuluh darah besar yang tampak di permukaan tubuh, dan secara jeli, mereka membandingkannya secara simetris. Pembuluh-pembuluh darah ini sudah memiliki sebutan tersendiri, seperti al-ak?al untuk pembuluh darah yang tampak di permukaan tangan, al-akhda’an yang kini dikenal sebagai arteri carotis – lokasinya di area leher; dan sebutan lain seperti al-abyadan, al abjalan, dan banyak lainnya yang menurut Ullmann, belum diketahui penjelasan detailnya.

Tradisi pengobatan dan pengetahuan masyarakat Arab yang demikian, seperti kencing unta, ruqyah, bekam, maupun deksripsi organ dalam hadis seperti “sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging – jika baik, baiklah seluruh tubuh; jika buruk, seluruh tubuh akan menjadi buruk pula, dan ia adalah al-qalbu.” (HR. Bukhari dan Muslim), turut mewarnai narasi hadis dalam beragam kitab, yang di masa-masa mendatang dinilai bagian dari sabda dan ajaran Nabi.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan terimakasih.

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

  • Bagikan Via: