Konsep Berpikir Setengah Isi atau Setengah Kosong

  • 2019-09-09 06:26:30

Jika setengah gelas air dimasukan ke dalam sebuah gelas, apakah gelas tersebut setengah isi atau setengah kosong? Mungkin antum pernah mendengar cerita tentang dua orang anak yang optimis dan pesimis menilai sikapnya terhadap ember berisi air setengahnya, apakah setengah isi atau setengah kosong.

Tetapi yang akan dibahas disini beda lagi, karena jawaban setengah isi maupun setengah kosong keduanya merupakan pernyataan gantungan bisa salah bisa juga benar.

Setengah Isi atau Setengah Kosong: Jawabannya Adalah “Tergantung”

Gelas Itu Penuh

Jika Antum menjawab bahwa gelas yang disebut penuh, itu juga juga bisa menjadi jawaban yang benar. Dan justru inilah jawaban yang paling benar. Mengapa? Karena gelas tersebut memang penuh: setengah diisi oleh air dan setengah lagi diisi oleh udara, jadi totalnya gelas tersebut penuh.

Jadi jawaban tergantung pertanyaanya. Saat ditanya apakah gelas itu setengah isi atau setengah kosong, saat tidak disebutkan zatnya apa, maka jawabannya penuh. Ada air dan ada udara. Ini cuman permainan kata saja menurut uwak.

Gelas Itu Setengah Isi

Yang menjawab setengah isi juga bisa benar jika yang ditujunya isi gelas tersebut adalah air saja. Udara dilupakan untuk sementara. Kebanyakan orang menjawab sesuai dengan apa yang sedang ada dalam pikiran atau yang biasa. Karena gelas itu asumsi umumnya adalah wadah air, maka fokus kita akan mengarah ke air, bukan udara.

Gelas Itu Setengah Kosong

Setengah kosong bisa juga dikatakan benar, dalam kontek harfiah. Tetapi jawaban seperti menunjukan bahwa kita selalu fokus terhadap yang tidak ada bukan fokus terhadap yang ada yang akan membuat kita memiliki rasa bersyukur. Sementara dengan adanya rasa bersyukur akan meningkatkan motivasi diri kita.

Tetapi untuk sudut pandang lain jawaban ini ada baiknya, misalnya saat kita sedang membuat rencana mencapai sesuatu, kita harus melihat kekurangan sehingga bisa menentukan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk mengisinya.

Banyak Sudut Pandangan

Ternyata, dari gelas yang terisi air setengahnya bisa memberikan banyak sudut pandang. Hal ini memberikan hikmah kepada kita bahwa dalam melihat sesuatu harus dari berbagai aspek, kita tidak bisa melihat dari satu sisi saja dan kemudian menghasilkan kesimpulan yang seolah kalkulator tumpuanny, yang gk bisa di ganggu gugat.

Jika kebetulan kita melihat pada satu aspek yang positif, alhamdulillah, tetapi jika kita kebetulan melihat pada aspek yang negatif, maka kehidupan kita akan terjebak selamanya pada kepercayaan negatif.

Berpikir lebih luas dengan cara melihat sesuatu dari berbagai aspek sudut pandang akan membuat kita lebih cerdas, lebih jeli, lebih terbuka terhadap peluang, dan memiliki motivasi diri yang lebih baik. Manfaatkanlah pikiran kita, jangan hanya sia-siakan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Ini adalah salah satu cara bersyukur kita, yaitu mengoptimalkan pikiran kita.

Efek Motivasi

Saat kita sedang mengisi air, maka kita akan mengatakan setengah isi atau sudah isi setengahnya. Sebaliknya saat Anda sedang mengosongkan air dari gelas, maka Anda bisa mengatakan sudah setengah kosong atau sudah kosong setengahnya.

Atau Anda bisa berkata sebaliknya. Misalnya saat Anda sedang mengisi air, dan gelas berisi air setengahnya:

Anda sudah mengisi air setengahnya

Anda belum mengisi air setengahnya

Dua kalimat kalimat yang sebenarnya secara fakta sama, tetapi bisa dikatakan dengan dua kalimat yang berbeda.

Apa perbedaan kedua kalimat itu? Padahal faktanya sama?
Yang membedakan adalah kesan yang masuk ke dalam hati Anda. Kalimat pertama fokus kepada kemajuan yang memberikan kesan positif kepada diri Anda. Sementara kalimat kedua memberikan kesan kekurangan. Efek motivasinya berbeda.

Selain efek motivasi juga efek syukur. Jika fokus pada apa yang sudah tercapai, Anda akan bersyukur dan bersyukur mendorong bertambahnya nikmat. Jika Anda fokus pada kekurangan, maka akan jauh dari bersyukur.

Saat Anda sedang mengerjakan proyek, fakta pekerjaan yang sudah terselesaikan sebanyak 10%, maka Anda bisa berkata:

Alhamdulillah sudah ada kemajuan 10%

Wah masih 90% yang harus dikerjakan

Begitu juga dalam bisnis, fakta target Anda tercapai 10%, Anda bisa mengatakan:

Alhamdulillah sudah mencapai target 10%

Ah, target saya masih jauh, 90% lagi

Keduanya memberikan kesan yang berbeda, memberikan efek motivasi dan syukur yang berbeda.

Kesimpulan

Dalam hidup ini, bisa jadi fakta yang terjadi sama. Kejadian dan peristiwa yang sama. Kegagalan dan keberhasilan yang sama. Apakah, fakta-fakta tersebut akan membuat Anda termotivasi atau bersyukur, semua tergantung sikap Anda dan dimulai dari kata-kata Anda.

Bukan apa yang terjadi, tetapi bagaimana sikap Anda terhadap kejadian tersebut.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan terimakasih.

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

 

  • Bagikan Via: