Kenapa Kita Harus belajar Sejarah???

  • 2019-08-07 08:05:39

Masa lalu bukanlah sebatas hitungan masa tanpa adanya makna, tapi sebuah pembelajaran untuk kita melangkah ke masa depan. Tahukah Anda? Dua pertiga Al-Qur’an disajikan dalam bentuk kisah. Al-Qur’an dan Al-Hadits ini merupakan pedoman hidup bagi manusia.

Mengamati lebih jauh, pesan-pesan moral yang yang terdapat di dalam Al Qur’an sebagian besar menjelaskan tentang kisah umat terdahulu dan utusan-Nya. Diantara kisah-kisah itu, ada kaum yang dibinasakan Tuhan, ada pula yang diselamatkan.

Cermatilah, kenapa Tuhan mengingatkan manusia tentang kaum ‘Ad, kaumnya Nabi Hud as, yakni sebuah suku bangsa kuno yang tinggal di daerah Al-Ahqaf di sebelah utara Hadramaut, yakni antara Yaman dan Oman. Mereka hidup sesudah banjir besar pada masa Nabi Nuh. Kehidupan mereka dikisahkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Awalnya mereka merupakan sebuah suku yang sejahtera namun menyekutukan Allah dan menentang para nabi yang diutus kepada mereka, kemudian Allah hancurkan mereka dengan badai yang sangat menakutkan.

Juga perhatikanlah Kaum Tsamud, kaumnya Nabi Shaleh, suatu kaum yang memiliki keahlian mengukir dan memahat bukit untuk dijadikan tempat tinggal mereka, saat ini dapat ditemui di Gunung Athlab dan hampir seluruh Arab bagian tengah. Dalam Al-Qur’an, kaum Tsamud termasuk kaum yang mendustakan nabi, sehingga kaum tersebut dibinasakan dengan gempa bumi.

Juga perhatikanlah, bagaimana Tuhan menenggelamkan Fir’aun beserta cukong-cukongnya. Begitu pula dengan kaumnya Nabi Nuh yang ditimpakan banjir besar. Kemudian musnahnya kaumnya Nabi Luth yang telah melampaui batas.

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.” (QS: At Taubah (9) : 70).

Dibalik kisah terdahulu, Tuhan memperingatkan manusia agar belajar dari masa silam, belajar dari sejarah, kenapa Tuhan membinasakan suatu negeri beserta kaumnya.

Kenapa kita harus belajar Sejarah, Dalam QS Yusuf (12):111, Allah Swt berfirman: ”Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Meskipun ayat di atas menunjukan agar memahami dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah (sejarah) nabi terdahulu beserta umatnya, bukan berarti kita sebagai umat muslim tidak perlu mengambil pelajaran atau nilai-nilai pendidikan suatu bangsa di masa sesudahnya.

Dalam ayat lain dijelaskan, “wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad” (Perhatikanlah sejarahmu, untuk masa depanmu). QS 59:18).

Hampir semua peristiwa penghancuran yang diceritakan dalam Al Quran “dapat diamati” dan dikenali berkat berbagai penelitian, arsip serta temuan-temuan arkeologis. Dalam penelitian ini kita akan berhubungan dengan jejak-jejak sisa peninggalan dari beberapa peristiwa penghancuran yang disebutkan dalam Al Quran.

Salah satu contoh, temuan arkeologis menjelaskan, banjir besar semasa Nabi Nuh as terjadi di dataran Mesopotamia. Kemudian, penggalian yang dilakukan oleh seorang arkeolog Sir Leonard Woolley di dataran Mesopotamia memaparkan adanya lapisan lumpur tanah liat setebal 2,5 m jauh di dalam bumi. Penemuan ini menjadi bagian bukti penting bahwa Banjir tersebut hanya terjadi di dataran Mesopotamia.

Bukti penggalian yang dilakukan Woolley dipaparkan oleh seorang arkeolog Jerman, Werner Keller, dalam bukunya The Bible as History: a Confirmation of the Book of Books.1 Bukti berikutnya ialah penemuan perahu Nabi Nuh di atas Gunung Agri atau Ararat di Turki. Perahu Nabi Nuh oleh Noah’s Ark Ministries International ditemukan pada ketinggian 13.000 kaki di Gunung Ararat, Turki timur

Sudah jelas, dengan memahami sejarah dengan baik dan benar, kaum Muslimin bisa bercermin untuk mengambil banyak ibrah dan membenahi kekurangan atau kesalahan mereka guna meraih kejayaan dan kemuliaan dunia dan akhirat.
“Orang yang berbahagia (beruntung) adalah orang yang mengambil nasehat (pelajaran) dari (peristiwa yang dialami) orang lain.” [Riwayat Muslim]

Sangat disayangkan, sebagian orang memandang bahwa sejarah dan masa lalunya tidak penting. Ironisnya lagi, buku-buku sejarah mereka ternyata berada di pustaka atau museum negeri lain. Peninggalan sejarah dianggap tak lebih hanya sebagai bebatuan dan seonggoh kayu biasa.

Bahkan sampai ada sebagian bangsa yang tidak mengenal peradabannya sendiri. Karena bagi mereka tidak penting apapun yang akan terjadi menimpa pada peradabannya, padahal suatu bangsa tanpa peradaban, budaya dan sejarah adalah bangsa yang mati, karena sebagian banyak dari pemikiran dan idiologi masyarakat bergantung pada peradaban, budaya dan sejarahnya.
Bangsa tanpa sejarah dan peradaban sama halnya dengan boneka mainan kecil yang mudah dimainkan oleh yang lain dan bebas diubah semaunya.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan terimakasih.

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

 

 

 

  • Bagikan Via: