Mewaspadai Kekeliruan Ilmu

  • 2019-07-17 07:28:08

Saat ini begitu banyak kemunkaran berhamburan di muka bumi. Salah satunya melalui media televisi, sebagian kemunkaran itu menyelusup masuk ke pojok-pojok kamar kita, tanpa permisi.

Kemunkaran terbesar dalam pandangan Islam, adalah kemunkaran di bidang aqidah Islamiyah. Yakni, kemunkaran yang mengubah dasar-dasar Islam. Inilah kemunkaran yang berawal dari kerusakan ilmu-ilmu Islam, yang menyangkut asas-asas pokok dalam Islam. Kemunkaran jenis ini jauh lebih berbahaya dibanding kemunkaran di bidang amal. Dosa orang yang mengingkari kewajiban salat lima waktu, lebih besar dibanding dosa orang yang meninggalkan salat karena malas, tetapi masih meyakini kewajiban salat. Dosa orang yang menjadi pelacur masih lebih ringan dibandingkan dengan orang yang menyebarkan paham, bahwa menjadi pelacur adalah tindakan mulia. Karena itu, adalah merupakan tindakan kemunkaran yang sangat serius untuk di basmi.

Buku-buku, tulisan-tulisan, atau ucapan-ucapan yang keliru jika disebarkan melalui media massa itu juga merupakan kemunkaran yang besar, lebih dari kemunkaran amal. Pornografi adalah munkar. Tetapi, pemikiran yang menyatakan, bahwa pornografi adalah tindakan mulia, merupakan kemunkaran yang lebih besar.

Inul memang bersalah dalam melakukan aksi dangdut ngebornya di depan khalayak umum. Semua ulama paham akan hal itu. Tetapi, orang-orang yang diposisikan sebagai ‘tokoh Islam’ yang memberikan legitimasi terhadap Inul, jelas melakukan kemunkaran yang lebih besar daripada Inul. Seorang pengasong ide liberal di Indonesia mengecam tokoh-tokoh Islam yang menilai Inul dengan menggunakan standar nilai-nilai Islam. Ia menulis tentang Inul ini dalam sebuah buku: “Agama tidak bisa “seenak udelnya” sendiri masuk ke dalam bidang-bidang itu (kesenian dan kebebasan berekspresi) dan memaksakan sendiri standarnya kepada masyarakat…Agama hendaknya tahu batas-batasnya.”

sekarang ini, bukan rahasia lagi, banyak kaum Muslimin yang mengabaikan ajaran-ajaran Al-Qur’an. Tetapi, selama ini, mereka tetap yakin bahwa Al-Qur’an adalah Kitab Suci. Al-Quran adalah firman Allah SWT. Tindakan mengabaikan ajaran al-Quran adalah munkar. Tetapi, penerbitan buku-buku dan artikel yang meragukan kesucian al-Qur’an adalah kemunkaran yang lebih besar.

Kemunkaran ilmu merupakan kemunkaran yang terbesar dalam perspektif Islam. Sebab, jika ilmu salah, maka akan muncul ulama yang salah. Jika ulama salah, maka umara (penguasa) dan umat pun akan salah. Kemunkaran ilmu adalah sumber kesalahan asasi dalam Islam. Ilmu yang salah mengacaukan batas antara al-haq dan al-bathil. Orang yang bathil tidak menemukan jalan untuk bertaubat, sebab dia merasa apa yang dilakukannya adalah tindakan yang baik. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Katakanlah, akankah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sesat amal perbuatannya di dunia ini, tetapi mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS al-Kahfi:103-104).

Di dalam Majalah Islamia yang membahas tentang “Epistemologi Islam”, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, menguraikan bahaya kekeliruan dan kejahilan dalam ilmu. Menurut konsepsi Islam tentang kejahilan seperti diuraikan Ibn Manzur dalam karyanya, Lisan Al-‘Arab, bahwa kejahilan itu terdiri daripada dua jenis. Pertama, kejahilan yang ringan, iaitu kurangnya ilmu tentang apa yang seharusnya diketahui; dan kedua, kejahilan yang berat, yaitu keyakinan salah yang bertentangan dengan fakta ataupun realita, meyakini sesuatu yang berbeda dengan sesuatu itu sendiri, ataupun melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dengan yang seharusnya.

Kita bisa memahami, kejahilan jenis kedua ini justru terjadi di kalangan para cendekiawan/ulama. Sebagian mereka sudah menjuluki dirinya ilmuwan (bergelar doktor, profesor, cendekiawan, Kyai Haji dan sebagainya). Tetapi, ilmu yang mereka punyai dan mereka sebarkan ke tengah masyarakat, adalah ilmu yang keliru. Bisa saja, mereka paham akan hal itu, tetapi karena tidak tahan dengan godaan dunia, mereka menjual kebenaran dengan kesesatan. Bisa juga mereka memang tidak paham. Bisa jadi ia seorang profesor bidang sejarah atau politik, tetapi karena posisinya sebagai tokoh Islam, maka ia merasa tahu tentang Islam dan menulis atau berbicara semaunya tentang Islam, meskipun dia sebenarnya tidak memahami ‘ulumuddin’ dengan baik.

Kejahilan di kalangan cendekiawan ini tidak mudah diobati. Dulu di masa Nabi Muhammad saw, tantangan keras terhadap misi kenabian justru datang dari para bangsawan dan cerdik pandai. Mereka pandai berhujjah dan memutarbalikkan fakta kebenaran, sehingga masyarakat terpengaruhi. Ketika hujjah mereka sudah dipatahkan, mereka pun enggan menerima kebenaran, karena berbagai kepentingan duniawi. Tidak ada niat sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran, karena memang niat awalnya untuk mengacau kebenaran.

Kemunkaran ilmu membutuhkan pemahaman yang agak rumit. Para ulama kita dulu-disamping menguasai dengan baik ajaran-ajaran Islam – juga menguasai dengan baik-baik paham-paham atau ilmu-ilmu yang munkar. Mereka bukan saja menulis tentang Islam, tetapi juga menulis apa yang membahayakan atau menyerang Islam. Karena memang antara haq dan bathil akan terus terjadi konfrontasi. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah, misalnya, disamping menulis ratusan kitab di bidang aqidah, syariah, dan akhlaq, beliau juga menulis tentang hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Beliau menulis kitab yang sangat tebal berjudul “Al-Jawab al-Shahih liman Baddala Din al-Masih” (Jawaban yang Benar terhadap Orang Yang Mengubah Agama al-Masih).

Pemahaman beliau tentang masalah Kristen sangat mendalam. Di masa lalu, para ulama kita mempelajari dengan sangat mendalam paham-paham yang berkembang ketika itu. Imam Syahrastani menulis Kitab yang sangat fenomenal hingga saat ini, yaitu “al-Milal wal-Nihal”, yang diakui sebagai Kitab perbandingan agama pertama.

Maka, di tengah-tengah era globalisasi dan hegemoni peradaban Barat saat ini, sekiranya para ulama dan cendekiawan Muslim juga memahami paham-paham yang berasal dari Barat yang kini membudaki pemikiran umat manusia, termasuk dalam bidang studi Islam. Paham dan pemikiran Pluralisme Agama, relativisme, sofisme, hermeneutika, sekularisme, liberalisme, dan sebagainya, kini telah diajarkan dan disebarkan oleh para tokoh dan lembaga-lembaga pendidikan Islam sendiri.

Sementara itu, begitu banyak kalangancendekiawan Muslim atau ulamanya yang tidak dapat
melakukan respon yang tepat, karena tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Akibat ketidaktahuan terhadap hakikat ‘kemunkaran’ yang terjadi, bisa muncul respon-respon yang tidak adil. Sebagian kalangan muslim melihat masalah politik Sebagai problema utama umat, sehingga berjuang mati-matian untuk menggolkan tujuannya. Milyaran rupiah dana dikucurkan untuk kepentingannya. Seorang calon walikota di Jawa Barat dari partai Islam. Perlu memerlukan dana sekitar Rp 4 milyar untuk biaya kampanyenya.

Banyak dari kita yang sibuk luar biasa menjelang acara pemilihan presiden, tetapi bungkam
saja ketika berbagai kemunkaran besar berseliweran. Aktivitas dan perilaku adalah cermian dari cara berpikir. Jika cara berpikir keliru, maka tindakan yang muncul juga akan keliru. Karena itu, sudah saatnya, kita semua, tokoh-tokoh umat, organisasi Islam, lembaga pendidikan Islam, merumuskan kembali tantangan dan strategi dakwah di “zaman baru” ini.

Zaman ini berbeda dengan zaman sebelumnya. Zaman dimana orang-orang yang diamanahi menjaga Islam (ulama) justru banyak diantara mereka yang menyerang Islam. Zaman dimana dari lembaga-lembaga perguruan tinggi Islam, justru muncul orang-orang yang bekerja untuk merobohkan Islam. Zaman dimana orang-orang yang belajar dan mengajar ushuluddin (dasar-dasar agama), banyak diantaranya yang justru mengajarkan ilmu-ilmu yang meragukan kebenaran Islam. Zaman dimana begitu banyak yang belajar syariah tetapi justru akhirnya anti-pati terhadap syariah.

Zaman seperti ini benar-benar zaman baru. Para tokoh dan organisasi-organisasi Islam seharusnya sadar akan hal ini. Dan kemudian berusaha sekuat tenaga mencegah agar ‘penyakit’ ini tidak semakin menyebar dan memakan korban. Tanpa pemahaman yang benar dan memadai tentang “hakikat al-munkar” dewasa ini, maka akan sulit umat Islam menerapkan konsep keadilan dalam menjalankan ‘amar ma’ruf nahi munkar’. Aktivitas berbanding lurus dengan pemahamannya, dan pemahaman yang benar, tergantung dari cara berfikirnya.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan terimakasih.

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1 

 

Tags: ilmu dakwah ulama
  • Bagikan Via: