Keadilan yang Terabaikan,

  • 2019-07-16 07:35:04

Kurang lebih sudah 1 setengah bulan kita ditinggalkan oleh bulan yang sangat mulia ini, yaitu bulan Ramadhan. Meskipun itu, tapi kemuliaannya masih terasa sampai saat ini, ketika kita menyelesaikan masalah dengan sesama manusia, yaitu maaf-memaafkan, kunjung-mengunjungi dalam rangka melengkapi ibadah puasa yang telah kita lakukan.

Sangat relevan jika kita menyampaikan salah satu esensi ajaran Islam, yaitu keadilan, karena puasa Ramadan yang kita lakukan, dengan menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh, bertujuan kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Salah satu jalan menuju takwa itu ialah menegakkan keadilan. “Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa”' (QS Al Maidah:8).

Allah SWT memerintahkan kita untuk menegakkan keadilan seperti termaktub dalam firman-Nya. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang melakukan perbuatan keji, kemunkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS An Nahl:90).

Menegakkan keadilan dapat dilakukan siapa saja, bukan hanya oleh hakim di pengadilan, polisi, jaksa, atau pun pejabat negara. Paling tidak, kita bisa dengan selalu berkata jujur, memberitakan atau memberikan keterangan dan kesaksian yang benar dalam suatu perkara.

Jangan karena benci atau terlalu senang dengan seseorang, kita berlaku tidak jujur, berkata tidak benar, dan berbuat tidak adil, apalagi menjadi saksi di pengadilan untuk suatu perkara yang dilakukan di bawah sumpah 'Demi Allah'. Sungguh besar dosanya jika memutuskan perkara  yang tidak sesuai faktanya.

Alquran menggunakan beberapa kata yang berbeda untuk makna keadilan, yaitu kata qist, mizan, haq, wasatha, dan adl. Dari semua kata tersebut dalam makna yang berbeda dapat ditujukan pada makna adil atau keadilan.

Kata qist mengandung makna keadilan yang dikaitkan dengan kebenaran. Seperti halnya juga kata haq, yaitu kebenaran yang juga dapat bermakna keadilan (lihat QS 7:159 dan 181). Kata mizan mengandung makna keadilan berkaitan dengan timbangan (keseimbangan), yaitu memperlakukan sesuatu secara seimbang. Seperti halnya lambang keadilan berupa timbangan dalam tradisi hukum Eropa.

Kata wasatha mengandung makna keadilan dalam kaitan dengan sikap yang berada di tengah (pertengahan) dan tidak memihak, yang dalam bahasa Indonesia disebut 'wasit'. Kata adil dapat bermakna perlakuan sama atau perlakuan secara seimbang.

Dengan itu, suatu keadilan haruslah berdasarkan kebenaran, keseimbangan, perlakuan sama, serta sikap tengah dan tidak memihak. Keadilan tidak bisa ditegakkan apabila mengabaikan kebenaran. Demikian juga sebaliknya, mengabaikan kebenaran sama dengan mengorbankan keadilan.

Menjadi saksi atau memberikan keterangan yang tidak benar dapat mencederai keadilan. Sikap yang memihak dan berat sebelah serta tidak memperlakukan secara seimbang dalam memutuskan suatu urusan (perkara), dalam memberikan keterangan atau dalam menuliskan suatu berita, juga ialah sikap yang mencederai keadilan.

Keadilan merupakan salah satu esensi dari ajaran Islam. Ada lebih dari 53 kata adil atau mengandung kata adil dalam Alquran. Sebagian ahli fikih memaknai keadilan, yaitu 'menempatkan sesuatu pada tempatnya' yang artinya memberikan orang sesuai dengan porsi dan bagiannya yang sebenarnya.

Dalam banyak ayat, Alquran menerangkan bahwa salah satu bentuk keadilan ialah keadilan terhadap Tuhan sebagai pencipta, yaitu dengan mengikuti jalan kebenaran dari Allah SWT melalui wahyu-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah SWT mengutus para nabi dan rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Bersama mereka diturunkan kitab dan neraca (mizan) supaya manusia dapat menegakkan keadilan (QS 57:25).

Allah-lah yang menurunkan Alquran dengan membawa kebenaran dan menurunkan keadilan (QS 42:17). Bagi manusia, Alquran merupakan petunjuk dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil (QS 2:185). Jalan kebenaran dalam Alquran itu sama dengan jalan keadilan, yaitu adil terhadap Tuhan Pencipta yang menciptakan manusia dengan sempurna (QS 7:29).

Menegakkan keadilan dalam hubungan antara sesama manusia harus dilakukan dengan hati yang bening dan bersih. Janganlah karena kebencian atau ketidaksukaan terhadap suatu kaum atau kelompok, kita berlaku tidak adil. Allah mengingatkan dalam Alquran; 'Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil (qist). Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil (adl). Berlaku adillah karena adil (adl) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan' (QS Al Maidah:8).

Allah pun mengingatkan agar kita menjadi saksi yang adil dan berkata benar walaupun terhadap diri sendiri, ibu/bapak, atau keluarga dekat. Janganlah karena demi membela diri sendiri, ibu/bapak, atau keluarga dekat, kita berbuat tidak adil terhadap orang lain dengan memberikan kesaksian yang tidak benar. Allah mengingatkan; 'Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak atau kaum kerabatmu, jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan kata-kata karena tidak hendak menjadi saksi maka sesungguhnya Allah maha mengetahui dengan segala apa yang kamu lakukan' (QS An Nisa:135).

Allah SWT mengingatkan bahwa tindakan demikian ialah tindakan yang hanya mengikuti hawa nafsu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui sekecil apa pun yang terpendam dalam hati kecil kita.

Rasulullah telah mencontohkan bagaimana ketegasannya menegakkan keadilan walaupun terhadap putrinya sendiri. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, suatu ketika orang-orang Qurais sangat mengkhawatirkan seorang wanita dari bani Makhzumiyyah yang tertangkap mencuri.

Lalu orang-orang Qurais berembuk, siapakah yang bisa melobi Rasulullah agar kepada wanita tersebut diberikan pengampunan. Lalu dipercayakanlah Usamah bin Zaid yang dianggap dekat dengan Rasulullah SAW dan menyampaikan hal itu kepada beliau. Lalu Rasulullah bersabda, "Apakah kamu mau memintakan syafaat dalam hukum di antara hukum-hukum Allah?"

Kemudian Rasulullah berdiri berkhotbah dan bersabda; "Sesungguhnya yang merusak/membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah bahwa mereka dahulu apabila orang mulia di antara mereka yang mencuri, mereka membiarkannya, tetapi kalau orang lemah di antara mereka yang mencuri, mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya."

Ketajaman hukum

Islam melarang keras hukum yang tajam ke bawah (yaitu tajam dan berlaku penuh kepada orang-orang miskin dan kekurangan), tetapi tumpul ke atas (yaitu tidak berlaku penuh kepada pejabat, pemegang kuasa, dan kaum kaya raya). Sungguh, kalau sudah terjadi hukum yang demikian, Rasulullah telah mengingatkan kepada kita semua bahwa tindakan demikianlah yang mengakibatkan hancurnya umat-umat terdahulu. Tindakan yang demikianlah yang berakibat jatuhnya suatu negara atau kekuasaan.

Tanggung jawab pemimpin

Keadilan dalam konteks pemerintahan, Allah memerintahkan kepada para pejabat atau pemimpin untuk melaksanakan amanat dan tanggung jawab mereka dan memutuskan suatu perkara hukum dengan adil. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah maha mendengar lagi maha melihat." (QS An Nisa:58).

Menyampaikan 'amanat' yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah melaksanakan jabatan yang dipercayakan kepada para pemimpin sebaik-baiknya. Allah memerintahkan untuk melaksanakan jabatan itu bagi kepentingan rakyat, dan kepentingan publik. Memperlakukan secara sama terhadap semua penduduk yang dipimpinnya, tidak mengutamakan sebagiannya dan mengabaikan yang lainnya.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan terimakasih.

https://www.indonesiabelajar.org/project/all/paging/1

  • Bagikan Via: