Rifki Tak Mau Putus Sekolah

Tidak sepenuhnya kesulitan ekonomi berdampak buruk, hal itu setidaknya dialami oleh Muhamad Rifki Fadilah (16 tahun). Karena kesulitan ekonomi yang  melanda keluarganya, justru membuat remaja yang akrab disapa Rifki tersadar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Rifki tak mau putus sekolah

Sebagai anak dari seorang ayah yang bekerja di sebuah pabrik minuman ringan ternama, Rifki beruntung hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Namun sejak ayahnya terkena kebijakan restrukturisasi perampingan karyawan pada 2003, pemasukan keluarga berkurang dan mulai goyah.

Kemudian ayahanda Lasidi (50 tahun) pun banting stir memanfaatkan motor yang ada di rumah sebagai tukang ojek. Tapi, tidak bisa menutupi kebutuhan keluarga karena banyak saingan. Maka ibunda Mahyati (43 tahun) mencari penghasilan tambahan dengan membantu tetangga untuk memasak, membersihkan rumah, mencuci dan menggosok pakaian.

“Sebelum keluarga kami krisis ekonomi, saya termasuk anak yang nakal, tidak mau membantu orang tua dan cuek terhadap kondisi keluarga. Namun setelah krisis itu terjadi, saya baru menyadari dan mencoba belajar merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.

Siswa kelas 1 SMK PGRI 20 (dulu SMK PGRI 11) Jurusan Otomotif, Cibubur, Jakarta,  pun menjadi rajin sekolah, mengaji, membantu ibunya membuat bros dan menjadi tukang ojek langganan tetangga.

Tetapi penghasilan yang didapat ayah, ibu, kakak dan dirinya tidak mencukupi untuk membiaya sekolah yang tergolong besar itu. Sehingga menunggak uang gedung, uang praktek, buku dan SPP selama setahun.

Rifki sangat berharap dirinya dapat terus bersekolah ---di sekolah yang bekerja sama dengan perusahaan otomotif terkemuka tersebut--- hingga mendapatkan ijasah. Agar setelah lulus dapat langsung bekerja di perusahaan otomotif tersebut. “Untuk dapat membahagiakan kedua orang tua saya,” pungkas warga Jalan Subur Kelurahan Susukan Ciracas Jakarta Timur.

Melalui program Indonesia Belajar, Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) mengajak kaum Muslimin untuk mewujudkan cita-cita Rifki.

Donasi yang dibutuhkan:

Rp 7.770.000,-  (Tujuh Juta Tujuh Ratus Tujuh Puluh Ribu Rupiah)

Untuk membayar tunggakkan uang gedung, uang praktik, uang buku, dan SPP selama setahun.

Partner lapang: 

Izati Wulan Sari