Ingin jadi Guru Sejarah, Vio Nekat Kuliah

Meski  keluarganya tidak mampu, tetapi Vio Ani Suwarni tetap nekat kuliah. Tidak mudah memang bagi gadis 20 tahun tersebut untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah dan lebih susah lagi mempertahankannya hingga lulus bila mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan. Namun tekad kuat untuk menjadi guru sejarah membuat mahasiswi semester tiga Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini tetap bertahan.  

IB-Vio

“Kamu bisa lulus dari SMA saja harus bersyukur, jangan berpikiran mau melanjutkan pendidikan lagi Nak, bapak dan ibu sudah tidak memiliki biaya,” jawab ayahanda Karmo, ketika SMA Vio menyatakan ingin kuliah.

Vio menyadari kondisi keuangan ayahanda yang bekerja sebagai buruh tani tersebut. Ketika SMA pun, biaya sekolah banyak dibantu oleh kakek nenek. Namun, untuk biaya kuliah, kakek nenek menyerah. Tetapi Vio tetap nekat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi (SNMPTN).

Namun ketika mendapat berita Vio lulus kuliah, Karmo tidak marah. “Wajah bingung terlihat dikedua wajah orang yang sangat aku sayangi, aku masih tidak percaya akan jalan Allah ini, dengan penuh semangat orang tuaku memberikan motivasi yang luar biasa kepadaku, bahkan aku tahu mereka sedang tidak memegang uang, dengan hati yang kukuh bapakku bertekat akan terus berjuang agar aku dapat melanjutkan pendidikanku,” kenang Vio.

Dengan diantar ayahanda, maka warga Dusun Semplek Desa Sampalan RT 23 RW. 05 Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang 41358 Jawa Barat tersebut meski sama sekali tidak tahu Jakarta memberanikan diri ke Jakarta.

Beberapa tahap telah dilalui, dimulai dengan verifikasi nilai raport, lapor ke BAAK, pemeriksaan kesehatan, wawancara fakultas maupun jurusan. Namun ada yang mengganjal, anak keempat dari lima bersauadara belum membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).

“Sehari sebelum pembayaran terakhir, orang tuaku belum mendapatkan uang, namun tidak kusangka bapakku mendapatkan pinjaman sehingga aku dapat membayar uang UKT tersebut,” ujar Vio.

Utang orang tua untuk membayar uang masuk kuliah dan UKT lalu sampai sekarang belum lunas, sehingga Vio tidak tega meminta uang untuk membayar UKT semester tiga. Ia pun berjualan kaos kaki, kerudung, risol, makanan ringan, alat-alat tulis tetapi penghasilannya habis untuk biaya fotokopi dan keperluan kuliah.

Untuk mengurangi beban keluarga Vio, melalui program Indonesia Belajar (IB), Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) menggalang donasi dari kaum Muslim. Sehingga Vio bisa meneruskan kuliah untuk menggapai cita cita menjadi guru sejarah. Dan tentu saja kucuran  pahala berlimpah dari Allah SWT untuk kita semua karena telah membantu sesama.[]

Donasi yang diperlukan:

Rp 4.900.000,- (biaya Uang Kuliah Tunggal [UKT] semester empat dan lima)

Mitra lapang:

Weli Kurniawan