Ayahanda di-PHK, Sekolah Baldi Khawatir Putus di Tengah Jalan

Sudah beberapa bulan ini Prasetyo Baldi Putranto tak lagi ikut mengaji sore di masjid lingkungan rumahnya.

“Saat ini terpaksa saya belum ikutkan lagi, karena saya belum sanggup untuk membayar iuran ngajinya, jadi untuk sementara dilanjutkan di rumah,” ungkap ibunda Tia Lestari (39 tahun).

Padahal etos belajar siswa kelas 3 SDIT Al Kamil, Sukatani, Tapos, Depok sangat tinggi sehingga meskipun sakit dia tetap memaksakan diri mengaji dan berangkat sekolah. Bila sakitnya benar-benar parah barulah dia istirahat di rumah.



Warga Pondok Sukatani Permai Cimanggis Depok, juga juga tergolong anak yang mandiri. Selain menyiapkan sendiri buku-buku pelajaran yang hendak dipelajari dan dibawa sekolah, ia juga menyiapkan sendiri pakaian seragamnya.

Semua mata pelajaran disukai oleh anak kedua dari tiga bersaudara ini terutama tahfihz Qur’an. Bocah yang bercita-cita ingin jadi tentara ini kini sudah hafal tiga juz Al-Qur’an yakni Juz 30, 29 dan 28.

Sayangnya, sekolah Baldi pun terancam putus di tengah jalan. Pasalnya sejak ayahanda Deni Hadiyanto (44 tahun) di-PHK hampir setahun lalu, ekonomi keluarga terguncang. Kakaknya yang kelas 5 SD dan adiknya yang duduk di kelas 1 di sekolah yang sama juga membutuhkan biaya yang tak sedikit. Sedangkan sampai sekarang Deni kerja serabutan dan belum ada pekerjaan yang bisa diandalkan.   

Tia pun akan sangat sedih bila Baldi harus berhenti sekolah juga.

Untuk mengurangi beban keluarga Baldi, Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) menggalang donasi dari kaum Muslimin melalui program Indonesia Belajar (IB). Sehingga Baldi bisa meneruskan sekolah setinggi-tingginya dan kita juga mendapatkan pahala berlimpah dari Allah SWT karena telah membantu sesama. Aamiin.[]

Donasi yang Diperlukan:

Rp 12.800.000 ( Tunggakan SPP Juli-Ags, SPP 1 Tahun @ 450rb, POMG 40rb, Kegiatan 2jt, Buku Paket 650rb)

Mitra Lapang:

Weli Kurniawan